Na, bhikkhave, mātā puttaṁ mīyamānaṁ evaṁ labhati:
Para bhikkhu, ketika anak sedang sekarat, seorang ibu tidak dapat memperoleh keinginannya:
When a child is dying, a mother doesn’t get her wish:
Bahaya
Sutta ini mengajak kita merenungkan apa yang benar-benar menjadi sumber kecemasan dalam hubungan terdekat kita, dan bagaimana ajaran Buddha menawarkan jalan keluar yang melampaui sekadar harapan dan keinginan.
Dalam sutta ini, Sang Buddha membahas tiga bahaya yang oleh orang awam dianggap memisahkan ibu dan anak—kebakaran besar, banjir besar, dan kekacauan di hutan belantara—namun menunjukkan bahwa bahaya-bahaya tersebut tidak selalu memisahkan, karena ada kalanya mereka dapat saling menemukan. Beliau kemudian mengungkapkan tiga bahaya yang sesungguhnya tak terelakkan dan selalu memisahkan: usia tua, penyakit, dan kematian. Sutta ditutup dengan penegasan bahwa jalan mulia berunsur delapan adalah jalan dan praktik yang mengarah pada pelepasan dan penaklukan semua bahaya tersebut.
Na, bhikkhave, mātā puttaṁ mīyamānaṁ evaṁ labhati:
Para bhikkhu, ketika anak sedang sekarat, seorang ibu tidak dapat memperoleh keinginannya:
When a child is dying, a mother doesn’t get her wish:
‘ahaṁ mīyāmi, mā me putto mīyī’ti;
‘Semoga aku yang mati, jangan anakku yang mati’;
‘Let me die, may my child not die!’
putto vā pana mātaraṁ mīyamānaṁ na evaṁ labhati:
demikian pula, ketika ibu sedang sekarat, seorang anak tidak dapat memperoleh keinginannya:
When a mother is dying, a child doesn’t get their wish:
‘ahaṁ mīyāmi, mā me mātā mīyī’ti.
‘Semoga aku yang mati, jangan ibuku yang mati’.
‘Let me die, may my mother not die!’
Imāni kho, bhikkhave, tīṇi amātāputtikāni bhayānīti.
Ini, para bhikkhu, adalah tiga bahaya yang memisahkan ibu dan anak.
These are the three perils that tear mothers and children apart.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.