Katamañca, bhikkhave, dukkhanirodhagāminī paṭipadā ariyasaccaṁ?
Dan apakah, para bhikkhu, kebenaran mulia tentang jalan menuju lenyapnya penderitaan?
And what is the noble truth of the practice that leads to the cessation of suffering?
Khotbah tentang Pandangan-Pandangan Sekte
Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana cara kita memahami sebab-akibat dan tanggung jawab. Mari kita simak bagaimana Buddha membedah pandangan-pandangan yang tampak logis namun berujung pada sikap pasrah, dan apa yang Beliau tawarkan sebagai jalan tengah yang memberdayakan.
Dalam khotbah ini, Buddha membahas tiga pandangan sektarian yang populer pada zamannya: segala sesuatu disebabkan oleh perbuatan masa lalu, oleh ciptaan Tuhan, atau terjadi tanpa sebab. Beliau menunjukkan bahwa ketiga pandangan ini, jika dianut secara konsisten, akan berujung pada ketidakberdayaan dan hilangnya usaha untuk berbuat baik atau menghindari kejahatan. Sebagai gantinya, Buddha mengajarkan Dhamma yang tidak dapat disanggah, yang berpuncak pada pemahaman Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan.
Katamañca, bhikkhave, dukkhanirodhagāminī paṭipadā ariyasaccaṁ?
Dan apakah, para bhikkhu, kebenaran mulia tentang jalan menuju lenyapnya penderitaan?
And what is the noble truth of the practice that leads to the cessation of suffering?
Ayameva ariyo aṭṭhaṅgiko maggo, seyyathidaṁ—
Yaitu jalan mulia berunsur delapan ini, yakni:
It is simply this noble eightfold path, that is:
sammādiṭṭhi, sammāsaṅkappo, sammāvācā, sammākammanto, sammāājīvo, sammāvāyāmo, sammāsati, sammāsamādhi.
pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar.
right view, right purpose, right speech, right action, right livelihood, right effort, right mindfulness, and right immersion.
Idaṁ vuccati, bhikkhave, dukkhanirodhagāminī paṭipadā ariyasaccaṁ.
Ini, para bhikkhu, disebut kebenaran mulia tentang jalan menuju lenyapnya penderitaan.
This is called the noble truth of the practice that leads to the cessation of suffering.
‘Imāni cattāri ariyasaccānī’ti, bhikkhave, mayā dhammo desito aniggahito asaṅkiliṭṭho anupavajjo appaṭikuṭṭho samaṇehi brāhmaṇehi viññūhīti.
‘Inilah empat kebenaran mulia’—demikianlah, para bhikkhu, Dhamma yang telah kuajarkan tidak dapat disangkal, tidak ternoda, tidak tercela, dan tidak dicela oleh para petapa dan brahmana yang bijaksana.
‘“These are the four noble truths”: this is the Dhamma I’ve taught that is irrefutable, uncorrupted, beyond reproach, and is not scorned by sensible ascetics and brahmins.’
Iti yaṁ taṁ vuttaṁ idametaṁ paṭicca vuttan”ti.
Demikianlah apa yang telah dikatakan, dan karena itulah dikatakan demikian.”
That’s what I said, and this is why I said it.”
Paṭhamaṁ.
Bagian pertama.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.