‘Cātuddasiṁ pañcadasiṁ,
‘Pada hari keempat belas, kelima belas,
‘Whoever wants to be like me
Para Raja Agung Empat (Ke-2)
Sutta ini mengajak kita merenungkan makna sejati dari praktik keagamaan: apakah kita hanya mengejar kebahagiaan surgawi yang masih bersifat sementara, ataukah kita mengarah pada pembebasan akhir yang melampaui segala penderitaan? Mari kita simak bagaimana Buddha meluruskan pemahaman tentang uposatha dan syair Sakka.
Dalam sutta ini, Buddha menceritakan bahwa Sakka, raja para dewa, pernah mengucapkan syair tentang menjalankan uposatha dengan delapan faktor agar menjadi seperti dirinya. Namun, Buddha menegaskan bahwa syair itu tidak tepat karena Sakka sendiri masih terikat pada kelahiran, usia tua, dan kematian. Sebaliknya, hanya seorang bhikkhu Arahant yang telah terbebas dari segala penderitaan yang layak mengucapkan syair tersebut.
‘Cātuddasiṁ pañcadasiṁ,
‘Pada hari keempat belas, kelima belas,
‘Whoever wants to be like me
yā ca pakkhassa aṭṭhamī;
dan pada hari kedelapan dari setiap paruh bulan,
would observe the sabbath
Pāṭihāriyapakkhañca,
serta pada hari-hari istimewa dalam paruh bulan,
complete in all eight factors,
aṭṭhaṅgasusamāgataṁ;
yang lengkap dengan delapan faktor,
on the fourteenth and the fifteenth days,
Uposathaṁ upavaseyya,
hendaknya ia menjalankan uposatha,
and the eighth day of the fortnight,
yopissa mādiso naro’ti.
jika ia ingin menjadi seperti aku.’
as well as on the fortnightly special displays.’
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.