‹
AN 3.34

Nidānasutta

Sutta Sumber-Sumber

Aṅguttara Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

KENALI DUNIA AN 3.34

Kenali dunia dalam sutta ini

Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana kualitas batin menjadi sumber dari setiap tindakan. Perhatikan baik-baik dua perumpamaan benih yang dipakai Sang Buddha—satu menunjukkan pertumbuhan, yang lain menunjukkan pemutusan total.

TOKOH & TEMPAT

Sinopsis singkat

Dalam sutta ini, Sang Buddha menjelaskan tiga akar penyebab munculnya perbuatan (kamma): keserakahan, kebencian, dan delusi. Beliau juga mengajarkan tiga akar sebaliknya—ketidakserakahan, ketidakbencian, dan ketidakdelusian—yang menjadi sumber perbuatan baik. Dengan perumpamaan benih yang subur dan benih yang dibakar, Sang Buddha menunjukkan bagaimana perbuatan yang berakar pada kualitas batin yang baik dapat diputus hingga tidak lagi menghasilkan akibat di masa depan.

Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
an3.34:11.1

Seyyathāpi, bhikkhave, bījāni akhaṇḍāni apūtīni avātātapahatāni sārādāni sukhasayitāni.

Misalkan, para bhikkhu, ada benih-benih yang utuh, tidak busuk, tidak dirusak oleh angin dan panas, subur, dan tersimpan baik.

Suppose some seeds were intact, unspoiled, not damaged by wind and sun, fertile, and well-kept.

an3.34:11.2

Tāni puriso agginā ḍaheyya.

Seseorang membakarnya dengan api,

But someone would burn them with fire,

an3.34:11.3

Agginā ḍahitvā masiṁ kareyya.

setelah membakarnya dengan api, menjadikannya abu,

reduce them to ashes,

an3.34:11.4

Masiṁ karitvā mahāvāte vā ophuṇeyya nadiyā vā sīghasotāya pavāheyya.

setelah menjadikannya abu, menaburkannya di angin kencang atau menghanyutkannya ke dalam aliran sungai yang deras.

and whisk away the ashes in a strong wind, or glide them down a swift stream.

an3.34:11.5

Evassu tāni, bhikkhave, bījāni ucchinnamūlāni tālāvatthukatāni anabhāvaṅkatāni āyatiṁ anuppādadhammāni.

Maka benih-benih itu, para bhikkhu, akan terpotong sampai ke akarnya, dijadikan seperti tunggul pohon palem, dimusnahkan, dan tidak akan muncul lagi di masa depan.

Then those seeds would be cut off at the root, made like a palm stump, obliterated, and unable to arise in the future.

an3.34:11.6

Evamevaṁ kho, bhikkhave, yaṁ alobhapakataṁ kammaṁ alobhajaṁ alobhanidānaṁ alobhasamudayaṁ, lobhe vigate evaṁ taṁ kammaṁ pahīnaṁ hoti ucchinnamūlaṁ tālāvatthukataṁ anabhāvaṅkataṁ āyatiṁ anuppādadhammaṁ.

Demikian pula, para bhikkhu, perbuatan apa pun yang dilakukan karena ketidakserakahan, lahir dari ketidakserakahan, bersumber dari ketidakserakahan, berasal dari ketidakserakahan—ketika keserakahan telah lenyap, maka perbuatan itu ditinggalkan, terpotong sampai ke akarnya, dijadikan seperti tunggul pohon palem, dimusnahkan, dan tidak akan muncul lagi di masa depan.

In the same way, any deed that emerges from contentment—born, sourced, and originated from contentment—is abandoned when greed is done away with. It’s cut off at the root, made like a palm stump, obliterated, and unable to arise in the future.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.