Theyyena kūṭakammena,
Dengan perbuatan curang dan mencuri,
Both by fraudulent, thieving deeds,
Buta
Sutta ini menggunakan perumpamaan yang sederhana namun dalam untuk merenungkan prioritas hidup kita. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha membedakan tiga tipe manusia berdasarkan cara mereka menggunakan 'penglihatan' mereka terhadap kekayaan dan kebenaran.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha mengajarkan tiga jenis individu yang ada di dunia, diibaratkan dengan orang buta, orang bermata satu, dan orang bermata dua. Perumpamaan ini menggambarkan kemampuan seseorang dalam dua hal: mengelola kekayaan materi dan memahami kualitas batin (Dhamma). Sang Buddha kemudian menjelaskan konsekuensi dari masing-masing tipe individu tersebut, baik di dunia ini maupun kehidupan mendatang.
Theyyena kūṭakammena,
Dengan perbuatan curang dan mencuri,
Both by fraudulent, thieving deeds,
musāvādena cūbhayaṁ;
dan juga dengan kebohongan;
and also by lies,
Kusalo hoti saṅghātuṁ,
Ia terampil mengumpulkan harta,
the young man’s skilled at piling up money,
kāmabhogī ca mānavo;
dan menikmati kenikmatan indria;
and enjoying sensual pleasures.
Ito so nirayaṁ gantvā,
Dari sini ia pergi ke neraka—
From here they go to hell—
ekacakkhu vihaññati.
orang bermata satu itu binasa.
the one-eyed person is ruined.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.