Iti kho, bhikkhave, sappaṭibhayo bālo, appaṭibhayo paṇḍito.
Demikianlah, para bhikkhu, orang bodoh membawa bahaya, sedangkan orang bijaksana aman.
So, the fool is dangerous, but the astute person is safe.
Sutta tentang Bahaya
Sutta ini mengajak kita merenungkan dampak kebodohan dan kebijaksanaan dalam kehidupan. Perhatikan bagaimana perumpamaan api digunakan untuk menggambarkan bahaya yang ditimbulkan oleh orang bodoh, dan renungkan bagaimana kita dapat melatih diri untuk menjadi bijaksana.
Dalam sutta ini, Sang Buddha menjelaskan bahwa segala bahaya, kemalangan, dan bencana berasal dari orang bodoh, bukan dari orang bijaksana. Beliau menggunakan perumpamaan api yang menyebar dari gubuk alang-alang untuk mengilustrasikan bagaimana kebodohan dapat membawa kehancuran. Di akhir khotbah, Beliau mendorong para bhikkhu untuk berlatih menghindari tiga hal yang menandai orang bodoh dan menjalankan tiga hal yang menandai orang bijaksana.
Iti kho, bhikkhave, sappaṭibhayo bālo, appaṭibhayo paṇḍito.
Demikianlah, para bhikkhu, orang bodoh membawa bahaya, sedangkan orang bijaksana aman.
So, the fool is dangerous, but the astute person is safe.
Saupaddavo bālo, anupaddavo paṇḍito.
Orang bodoh membawa kemalangan, sedangkan orang bijaksana tidak.
The fool is perilous, but the astute person is not.
Saupasaggo bālo, anupasaggo paṇḍito.
Orang bodoh membawa bencana, sedangkan orang bijaksana tidak.
The fool is hazardous, but the astute person is not.
Natthi, bhikkhave, paṇḍitato bhayaṁ, natthi paṇḍitato upaddavo, natthi paṇḍitato upasaggo.
Tidak ada, para bhikkhu, bahaya dari orang bijaksana, tidak ada kemalangan dari orang bijaksana, tidak ada bencana dari orang bijaksana."
There’s no danger, peril, or hazard that comes from the astute.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.