‹
AN 3.16

Apaṇṇakasutta

Sutta Kepastian

Aṅguttara Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

KENALI DUNIA AN 3.16

Kenali dunia dalam sutta ini

Sutta ini menawarkan panduan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha merinci tiga kualitas yang menjadikan praktik seseorang 'jalan yang pasti' menuju kebebasan batin.

TOKOH & TEMPAT

Sinopsis singkat

Dalam sutta ini, Sang Buddha menjelaskan tiga kualitas yang menjadikan praktik seorang bhikkhu sebagai 'jalan yang pasti' menuju akhir kekotoran batin: menjaga pintu-pintu indria, makan secukupnya, dan tekun dalam kewaspadaan. Setiap kualitas diuraikan secara rinci, memberikan panduan praktis untuk kehidupan sehari-hari seorang praktisi.

Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
an3.16:2.1

Kathañca, bhikkhave, bhikkhu indriyesu guttadvāro hoti?

Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu menjaga pintu-pintu indria?

And how does a mendicant guard the sense doors?

an3.16:2.2

Idha, bhikkhave, bhikkhu cakkhunā rūpaṁ disvā na nimittaggāhī hoti nānubyañjanaggāhī.

Di sini, para bhikkhu, setelah melihat suatu bentuk dengan mata, ia tidak menangkap ciri-ciri utamanya maupun ciri-ciri detailnya.

When a mendicant sees a sight with their eyes, they don’t get caught up in the features and details.

an3.16:2.3

Yatvādhikaraṇamenaṁ cakkhundriyaṁ asaṁvutaṁ viharantaṁ abhijjhādomanassā pāpakā akusalā dhammā anvāssaveyyuṁ tassa saṁvarāya paṭipajjati, rakkhati cakkhundriyaṁ, cakkhundriye saṁvaraṁ āpajjati.

Karena jika indria mata tidak terkekang, maka keserakahan dan ketidak-senangan, kualitas-kualitas buruk yang tidak terampil, akan melanda dirinya. Oleh karena itu, ia berlatih untuk mengekangnya, ia menjaga indria mata, dan mencapai pengekangan atas indria mata.

If the faculty of sight were left unrestrained, bad unskillful qualities of covetousness and displeasure would become overwhelming. For this reason, they practice restraint, protecting the faculty of sight, and achieving its restraint.

an3.16:2.4

Sotena saddaṁ sutvā …

Setelah mendengar suatu suara dengan telinga …

When they hear a sound with their ears …

an3.16:2.5

ghānena gandhaṁ ghāyitvā …

Setelah mencium suatu bau dengan hidung …

When they smell an odor with their nose …

an3.16:2.6

jivhāya rasaṁ sāyitvā …

Setelah mengecap suatu rasa dengan lidah …

When they taste a flavor with their tongue …

an3.16:2.7

kāyena phoṭṭhabbaṁ phusitvā …

Setelah merasakan suatu sentuhan dengan tubuh …

When they feel a touch with their body …

an3.16:2.8

manasā dhammaṁ viññāya na nimittaggāhī hoti nānubyañjanaggāhī.

Setelah mengetahui suatu objek pikiran dengan pikiran, ia tidak menangkap ciri-ciri utamanya maupun ciri-ciri detailnya.

When they know an idea with their mind, they don’t get caught up in the features and details.

an3.16:2.9

Yatvādhikaraṇamenaṁ manindriyaṁ asaṁvutaṁ viharantaṁ abhijjhādomanassā pāpakā akusalā dhammā anvāssaveyyuṁ tassa saṁvarāya paṭipajjati, rakkhati manindriyaṁ, manindriye saṁvaraṁ āpajjati.

Karena jika indria pikiran tidak terkekang, maka keserakahan dan ketidak-senangan, kualitas-kualitas buruk yang tidak terampil, akan melanda dirinya. Oleh karena itu, ia berlatih untuk mengekangnya, ia menjaga indria pikiran, dan mencapai pengekangan atas indria pikiran.

If the faculty of mind were left unrestrained, bad unskillful qualities of covetousness and displeasure would become overwhelming. For this reason, they practice restraint, protecting the faculty of mind, and achieving its restraint.

an3.16:2.10

Evaṁ kho, bhikkhave, bhikkhu indriyesu guttadvāro hoti.

Demikianlah, para bhikkhu, seorang bhikkhu menjaga pintu-pintu indria.

That’s how a mendicant guards the sense doors.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.