Puna caparaṁ, bhikkhave, yasmiṁ padese rājā khattiyo muddhāvasitto hoti.
Kemudian, para bhikkhu, tempat di mana raja khattiya itu dinobatkan sebagai raja.
The place he was anointed as king.
Sutta Pengenangan
Sutta ini mengajak kita merenungkan tonggak-tonggak penting dalam perjalanan spiritual. Seperti seorang raja yang mengingat asal-usul dan kemenangannya, seorang bhikkhu diajak untuk selalu mengingat momen-momen yang membentuk dan memuncaki praktiknya.
Buddha mengajarkan bahwa sebagaimana seorang raja yang telah dinobatkan memiliki tiga tempat yang harus dikenang sepanjang hidupnya—tempat kelahiran, tempat penobatan, dan tempat kemenangan dalam peperangan—demikian pula seorang bhikkhu memiliki tiga tempat yang harus dikenang: tempat ia meninggalkan kehidupan rumah tangga, tempat ia memahami Empat Kebenaran Mulia, dan tempat ia mencapai kebebasan sempurna melalui hancurnya kekotoran batin.
Puna caparaṁ, bhikkhave, yasmiṁ padese rājā khattiyo muddhāvasitto hoti.
Kemudian, para bhikkhu, tempat di mana raja khattiya itu dinobatkan sebagai raja.
The place he was anointed as king.
Idaṁ, bhikkhave, dutiyaṁ rañño khattiyassa muddhāvasittassa yāvajīvaṁ sāraṇīyaṁ hoti.
Ini, para bhikkhu, adalah tempat kedua yang harus dikenang oleh seorang raja khattiya yang telah dinobatkan selama hidupnya.
This is the second place.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.