Gāme vā yadi vāraññe,
Baik di desa maupun di hutan,
Whether in village or wilderness,
Sutta tentang Kepahitan
Sutta ini menggunakan perumpamaan yang kuat dan mudah diingat untuk menggambarkan kondisi batin yang tidak sehat. Perhatikan bagaimana Sang Buddha membangun metafora dari hal yang sederhana—lalat yang mengerumuni luka—menjadi gambaran tentang bagaimana pikiran-pikiran buruk menguasai seseorang yang tidak menjaga indrianya.
Suatu pagi di Varanasi, Sang Buddha melihat seorang bhikkhu yang tidak puas dan mencari kesenangan duniawi. Beliau menasihatinya dengan perumpamaan tentang kepahitan, kebusukan, dan lalat. Ketika para bhikkhu lain bertanya tentang makna perumpamaan itu, Sang Buddha menjelaskan bahwa keinginan adalah kepahitan, niat jahat adalah kebusukan, dan pikiran buruk adalah lalat yang mengerumuni batin yang tidak terjaga.
Gāme vā yadi vāraññe,
Baik di desa maupun di hutan,
Whether in village or wilderness,
aladdhā samathamattano;
jika ia tidak memperoleh ketenangan batin,
if they don’t find serenity in themselves,
Pareti bālo dummedho,
orang bodoh yang dungu itu pergi,
the fool, the simpleton departs,
makkhikāhi purakkhato.
ditemani hanya oleh lalat-lalat.
honored only by flies.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.