Katamañca, bhikkhave, vacīsoceyyaṁ?
Dan apakah, para bhikkhu, kesucian ucapan?
And what is purity of speech?
Kesucian (Ke dua)
Sutta ini mengajak kita merenungkan bahwa kesucian tidak hanya soal perilaku lahiriah, tetapi juga kejernihan batin. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha merinci ketiga aspek kesucian ini.
Dalam sutta ini, Sang Buddha menjelaskan tiga jenis kesucian: kesucian tubuh, ucapan, dan pikiran. Kesucian tubuh dan ucapan dijelaskan sebagai penghindaran dari perbuatan tidak baik, sementara kesucian pikiran dijelaskan secara lebih mendalam sebagai kesadaran penuh terhadap keberadaan dan lenyapnya rintangan batin seperti keinginan indrawi, niat buruk, kemalasan, kegelisahan, dan keragu-raguan. Sutta ditutup dengan syair yang menegaskan pentingnya kebersihan batin yang tanpa noda.
Katamañca, bhikkhave, vacīsoceyyaṁ?
Dan apakah, para bhikkhu, kesucian ucapan?
And what is purity of speech?
Idha, bhikkhave, bhikkhu musāvādā paṭivirato hoti, pisuṇāya vācāya paṭivirato hoti, pharusāya vācāya paṭivirato hoti, samphappalāpā paṭivirato hoti.
Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu menghindari ucapan bohong, menghindari ucapan yang memecah belah, menghindari ucapan kasar, dan menghindari pembicaraan yang tidak bermanfaat.
It’s when a mendicant doesn’t use speech that’s false, backbiting, harsh, or nonsensical.
Idaṁ vuccati, bhikkhave, vacīsoceyyaṁ.
Ini, para bhikkhu, disebut ‘kesucian ucapan’.
This is called ‘purity of speech’.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.