“Tīṇimāni, bhikkhave, soceyyāni.
“Para bhikkhu, ada tiga macam kesucian ini.
“Mendicants, there are these three kinds of purity.
Kesucian (Ke dua)
Sutta ini mengajak kita merenungkan bahwa kesucian tidak hanya soal perilaku lahiriah, tetapi juga kejernihan batin. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha merinci ketiga aspek kesucian ini.
Dalam sutta ini, Sang Buddha menjelaskan tiga jenis kesucian: kesucian tubuh, ucapan, dan pikiran. Kesucian tubuh dan ucapan dijelaskan sebagai penghindaran dari perbuatan tidak baik, sementara kesucian pikiran dijelaskan secara lebih mendalam sebagai kesadaran penuh terhadap keberadaan dan lenyapnya rintangan batin seperti keinginan indrawi, niat buruk, kemalasan, kegelisahan, dan keragu-raguan. Sutta ditutup dengan syair yang menegaskan pentingnya kebersihan batin yang tanpa noda.
“Tīṇimāni, bhikkhave, soceyyāni.
“Para bhikkhu, ada tiga macam kesucian ini.
“Mendicants, there are these three kinds of purity.
Katamāni tīṇi?
Apakah tiga itu?
What three?
Kāyasoceyyaṁ, vacīsoceyyaṁ, manosoceyyaṁ.
Kesucian tubuh, kesucian ucapan, dan kesucian pikiran.
Purity of body, speech, and mind.
Katamañca, bhikkhave, kāyasoceyyaṁ?
Dan apakah, para bhikkhu, kesucian tubuh?
And what is purity of body?
Idha, bhikkhave, bhikkhu pāṇātipātā paṭivirato hoti, adinnādānā paṭivirato hoti, abrahmacariyā paṭivirato hoti.
Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu menghindari membunuh makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, dan menghindari perbuatan seksual.
It’s when a mendicant doesn’t kill living creatures, steal, or have sex.
Idaṁ vuccati, bhikkhave, kāyasoceyyaṁ.
Ini, para bhikkhu, disebut ‘kesucian tubuh’.
This is called ‘purity of body’.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.