Katamo ca, bhikkhave, puggalo duppameyyo?
Dan siapakah, para bhikkhu, individu yang sulit diukur?
And who is the individual hard to measure?
Sutta tentang Yang Tak Terukur
Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana kita mengenali kualitas batin seseorang, dan bagaimana kita dapat menempatkan diri dalam kategori tersebut. Mari kita simak dengan tenang.
Dalam sutta ini, Sang Buddha membabarkan tiga jenis individu yang ada di dunia: yang mudah diukur, yang sulit diukur, dan yang tak terukur. Individu yang mudah diukur adalah mereka yang gelisah, angkuh, dan tidak terkendali; yang sulit diukur adalah mereka yang tenang, penuh perhatian, dan terkendali; sedangkan yang tak terukur adalah seorang bhikkhu yang telah mencapai kesempurnaan dan mengakhiri kekotoran batin, yaitu seorang Arahant.
Katamo ca, bhikkhave, puggalo duppameyyo?
Dan siapakah, para bhikkhu, individu yang sulit diukur?
And who is the individual hard to measure?
Idha, bhikkhave, ekacco puggalo anuddhato hoti anunnaḷo acapalo amukharo avikiṇṇavāco upaṭṭhitassati sampajāno samāhito ekaggacitto saṁvutindriyo.
Di sini, para bhikkhu, seseorang yang tidak gelisah, tidak angkuh, tidak goyah, tidak banyak bicara, tidak berbicara tidak terkendali. Ia memiliki perhatian yang tegak, kesadaran jernih, konsentrasi, pikiran yang terpusat, dan indra yang terkendali.
It’s an individual who is not haughty, insolent, fickle, scurrilous, or loose-tongued. They have established mindfulness, situational awareness and immersion, with unified mind and restrained faculties.
Ayaṁ vuccati, bhikkhave, puggalo duppameyyo.
Ini, para bhikkhu, disebut ‘individu yang sulit diukur’.
This is called ‘an individual hard to measure’.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.