‹
AN 3.105

Dutiyaassādasutta

Kepuasan (Ke-2)

Aṅguttara Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

KENALI DUNIA AN 3.105

Kenali dunia dalam sutta ini

Dalam sutta pendek ini, Sang Buddha mengajak kita merenungkan hubungan kita dengan dunia. Mari kita simak bagaimana beliau menguraikan tiga aspek penting yang menentukan kebebasan batin.

TOKOH & TEMPAT

Sinopsis singkat

Dalam khotbah singkat ini, Sang Buddha menjelaskan tiga aspek penting dari dunia—kepuasan (assāda), bahaya (ādīnava), dan jalan keluar (nissaraṇa)—yang harus dipahami sebagaimana adanya. Tanpa pemahaman ini, makhluk-makhluk tidak akan terbebas dari dunia; dengan memahaminya, mereka mencapai kebebasan dan keterlepasan total.

Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
an3.105:1.1

“No cedaṁ, bhikkhave, loke assādo abhavissa, nayidaṁ sattā loke sārajjeyyuṁ.

“Para bhikkhu, jika tidak ada kepuasan di dunia ini, makhluk-makhluk tidak akan terpikat olehnya.

“Mendicants, if there were no gratification in the world, sentient beings wouldn’t be aroused by it.

an3.105:1.2

Yasmā ca kho, bhikkhave, atthi loke assādo, tasmā sattā loke sārajjanti.

Tetapi karena ada kepuasan di dunia ini, para bhikkhu, makhluk-makhluk menjadi terpikat olehnya.

But because there is gratification in the world, sentient beings are aroused by it.

an3.105:1.3

No cedaṁ, bhikkhave, loke ādīnavo abhavissa, nayidaṁ sattā loke nibbindeyyuṁ.

Jika tidak ada bahaya di dunia ini, para bhikkhu, makhluk-makhluk tidak akan menjadi jijik terhadapnya.

If the world had no drawback, sentient beings wouldn’t grow disillusioned with it.

an3.105:1.4

Yasmā ca kho, bhikkhave, atthi loke ādīnavo, tasmā sattā loke nibbindanti.

Tetapi karena ada bahaya di dunia ini, para bhikkhu, makhluk-makhluk menjadi jijik terhadapnya.

But since the world has a drawback, sentient beings do grow disillusioned with it.

an3.105:1.5

No cedaṁ, bhikkhave, loke nissaraṇaṁ abhavissa, nayidaṁ sattā lokamhā nissareyyuṁ.

Jika tidak ada jalan keluar dari dunia ini, para bhikkhu, makhluk-makhluk tidak akan terbebas darinya.

If there were no escape from the world, sentient beings wouldn’t escape from it.

an3.105:1.6

Yasmā ca kho, bhikkhave, atthi loke nissaraṇaṁ, tasmā sattā lokamhā nissaranti.

Tetapi karena ada jalan keluar dari dunia ini, para bhikkhu, makhluk-makhluk menjadi terbebas darinya.

But since there is an escape from the world, sentient beings do escape from it.

an3.105:1.7

Yāvakīvañca, bhikkhave, sattā lokassa assādañca assādato ādīnavañca ādīnavato nissaraṇañca nissaraṇato yathābhūtaṁ nābbhaññāsuṁ, neva tāva, bhikkhave, sattā sadevakā lokā samārakā sabrahmakā sassamaṇabrāhmaṇiyā pajāya sadevamanussāya nissaṭā visaṁyuttā vippamuttā vimariyādīkatena cetasā vihariṁsu.

Selama para bhikkhu, makhluk-makhluk belum memahami sebagaimana adanya kepuasan dunia sebagai kepuasan, bahaya dunia sebagai bahaya, dan jalan keluar dari dunia sebagai jalan keluar, maka selama itu pula, para bhikkhu, makhluk-makhluk belum terbebas, belum terlepas, belum terbebaskan dari dunia ini—dengan para dewanya, Māra, dan Brahmā, dari generasi ini dengan para petapa dan brahmana, para dewa dan manusia—dan mereka tidak berdiam dengan pikiran yang terlepas, terbebaskan, dan tanpa batas.

As long as sentient beings don’t truly understand the world’s gratification, drawback, and escape for what they are, they haven’t escaped from this world—with its gods, Māras, and divinities, this population with its ascetics and brahmins, its gods and humans—and they don’t live detached, liberated, with mind free of boundaries.

an3.105:1.8

Yato ca kho, bhikkhave, sattā lokassa assādañca assādato ādīnavañca ādīnavato nissaraṇañca nissaraṇato yathābhūtaṁ abbhaññāsuṁ, atha, bhikkhave, sattā sadevakā lokā samārakā sabrahmakā sassamaṇabrāhmaṇiyā pajāya sadevamanussāya nissaṭā visaṁyuttā vippamuttā vimariyādīkatena cetasā viharantī”ti.

Tetapi ketika para bhikkhu, makhluk-makhluk telah memahami sebagaimana adanya kepuasan dunia sebagai kepuasan, bahaya dunia sebagai bahaya, dan jalan keluar dari dunia sebagai jalan keluar, maka, para bhikkhu, makhluk-makhluk—dengan para dewanya, Māra, dan Brahmā, dari generasi ini dengan para petapa dan brahmana, para dewa dan manusia—telah terbebas, terlepas, terbebaskan, dan berdiam dengan pikiran yang terlepas, terbebaskan, dan tanpa batas.”

But when sentient beings truly understand the world’s gratification, drawback, and escape for what they are, they’ve escaped from this world—with its gods, Māras, and divinities, this population with its ascetics and brahmins, its gods and humans—and they live detached, liberated, with mind free of boundaries.”

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.