77
77
AN2.77-86
Sepuluh sutta pendek ini mungkin terasa berulang, tetapi justru di situlah kekuatannya. Coba perhatikan bagaimana satu gagasan yang sama diulang dengan kata-kata yang berbeda, dan renungkan apa implikasinya bagi pemahaman kita tentang bagaimana pikiran bekerja.
Sepuluh sutta pendek dalam Aṅguttara Nikāya ini menyampaikan satu pola ajaran yang sama: kualitas-kualitas buruk dan tidak terampil (pāpakā akusalā dhammā) selalu muncul dengan landasan, sumber, sebab, kondisi, alasan, bentuk, perasaan, persepsi, kesadaran, atau landasan yang terkondisi. Dengan meninggalkan landasan-landasan tersebut, kualitas-kualitas buruk itu tidak akan muncul. Sutta-sutta ini menekankan hukum sebab-akibat dalam kehidupan batin dan pentingnya melepaskan akar permasalahan.
77
77
“Sanimittā, bhikkhave, uppajjanti pāpakā akusalā dhammā, no animittā.
“Para bhikkhu, kualitas-kualitas buruk dan tidak terampil muncul dengan landasan, bukan tanpa landasan.
“Bad, unskillful qualities, mendicants, arise with a basis, not without a basis.
Tasseva nimittassa pahānā evaṁ te pāpakā akusalā dhammā na hontī”ti.
Dengan meninggalkan landasan itu, kualitas-kualitas buruk dan tidak terampil itu tidak terjadi.”
By giving up that basis, those bad, unskillful qualities do not occur.”
78
78
“Sanidānā, bhikkhave, uppajjanti pāpakā akusalā dhammā, no anidānā.
“Para bhikkhu, kualitas-kualitas buruk dan tidak terampil muncul dengan sumber, bukan tanpa sumber.
“Bad, unskillful qualities, mendicants, arise with a source, not without a source.
Tasseva nidānassa pahānā evaṁ te pāpakā akusalā dhammā na hontī”ti.
Dengan meninggalkan sumber itu, kualitas-kualitas buruk dan tidak terampil itu tidak terjadi.”
By giving up that source, those bad, unskillful qualities do not occur.”
79
79
“Sahetukā, bhikkhave, uppajjanti pāpakā akusalā dhammā, no ahetukā.
“Para bhikkhu, kualitas-kualitas buruk dan tidak terampil muncul dengan sebab, bukan tanpa sebab.
“Bad, unskillful qualities, mendicants, arise with a cause, not without a cause.
Tasseva hetussa pahānā evaṁ te pāpakā akusalā dhammā na hontī”ti.
Dengan meninggalkan sebab itu, kualitas-kualitas buruk dan tidak terampil itu tidak terjadi.”
By giving up that cause, those bad, unskillful qualities do not occur.”
80
80
“Sasaṅkhārā, bhikkhave, uppajjanti pāpakā akusalā dhammā, no asaṅkhārā.
“Para bhikkhu, kualitas-kualitas buruk dan tidak terampil muncul dengan kondisi-kondisi, bukan tanpa kondisi.
“Bad, unskillful qualities, mendicants, arise with conditions, not without conditions.
Tesaṁyeva saṅkhārānaṁ pahānā evaṁ te pāpakā akusalā dhammā na hontī”ti.
Dengan meninggalkan kondisi-kondisi itu, kualitas-kualitas buruk dan tidak terampil itu tidak terjadi.”
By giving up those conditions, those bad, unskillful qualities do not occur.”
81
81
“Sappaccayā, bhikkhave, uppajjanti pāpakā akusalā dhammā, no appaccayā.
“Para bhikkhu, kualitas-kualitas buruk dan tidak terampil muncul dengan alasan, bukan tanpa alasan.
“Bad, unskillful qualities, mendicants, arise with a reason, not without a reason.
Tasseva paccayassa pahānā evaṁ te pāpakā akusalā dhammā na hontī”ti.
Dengan meninggalkan alasan itu, kualitas-kualitas buruk dan tidak terampil itu tidak terjadi.”
By giving up that reason, those bad, unskillful qualities do not occur.”
82
82
“Sarūpā, bhikkhave, uppajjanti pāpakā akusalā dhammā, no arūpā.
“Para bhikkhu, kualitas-kualitas buruk dan tidak terampil muncul dengan bentuk, bukan tanpa bentuk.
“Bad, unskillful qualities, mendicants, arise with form, not without form.
Tasseva rūpassa pahānā evaṁ te pāpakā akusalā dhammā na hontī”ti.
Dengan meninggalkan bentuk itu, kualitas-kualitas buruk dan tidak terampil itu tidak terjadi.”
By giving up that form, those bad, unskillful qualities do not occur.”
83
83
“Savedanā, bhikkhave, uppajjanti pāpakā akusalā dhammā, no avedanā.
“Para bhikkhu, kualitas-kualitas buruk yang tidak terampil muncul dengan perasaan, bukan tanpa perasaan.
“Bad, unskillful qualities, mendicants, arise with feeling, not without feeling.
Tassāyeva vedanāya pahānā evaṁ te pāpakā akusalā dhammā na hontī”ti.
Dengan melepaskan perasaan itu, kualitas-kualitas buruk yang tidak terampil itu tidak terjadi.”
By giving up that feeling, those bad, unskillful qualities do not occur.”
84
84
“Sasaññā, bhikkhave, uppajjanti pāpakā akusalā dhammā, no asaññā.
“Para bhikkhu, kualitas-kualitas buruk yang tidak terampil muncul dengan persepsi, bukan tanpa persepsi.
“Bad, unskillful qualities, mendicants, arise with perception, not without perception.
Tassāyeva saññāya pahānā evaṁ te pāpakā akusalā dhammā na hontī”ti.
Dengan melepaskan persepsi itu, kualitas-kualitas buruk yang tidak terampil itu tidak terjadi.”
By giving up that perception, those bad, unskillful qualities do not occur.”
85
85
“Saviññāṇā, bhikkhave, uppajjanti pāpakā akusalā dhammā, no aviññāṇā.
“Para bhikkhu, kualitas-kualitas buruk yang tidak terampil muncul dengan kesadaran, bukan tanpa kesadaran.
“Bad, unskillful qualities, mendicants, arise with consciousness, not without consciousness.
Tasseva viññāṇassa pahānā evaṁ te pāpakā akusalā dhammā na hontī”ti.
Dengan melepaskan kesadaran itu, kualitas-kualitas buruk yang tidak terampil itu tidak terjadi.”
By giving up that consciousness, those bad, unskillful qualities do not occur.”
86
86
“Saṅkhatārammaṇā, bhikkhave, uppajjanti pāpakā akusalā dhammā, no asaṅkhatārammaṇā.
“Para bhikkhu, kualitas-kualitas buruk yang tidak terampil muncul dengan landasan yang terkondisi, bukan tanpa landasan yang terkondisi.
“Bad, unskillful qualities, mendicants, arise with a conditioned basis, not without a conditioned basis.
Tasseva saṅkhatassa pahānā evaṁ te pāpakā akusalā dhammā na hontī”ti.
Dengan melepaskan landasan yang terkondisi itu, kualitas-kualitas buruk yang tidak terampil itu tidak terjadi.”
By giving up that conditioned basis, those bad, unskillful qualities do not occur.”
Sanimittavaggo tatiyo.
Bab ketiga tentang landasan-landasan.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.