‘Namo te purisājañña,
‘Hormat kepada-Mu, wahai kuda jantan unggul,
‘Homage to you, O thoroughbred!
Khotbah tentang Saddha
Sutta ini menggunakan perumpamaan kuda untuk menggambarkan kualitas meditasi. Perhatikan baik-baik perbedaan antara 'bersandar' pada objek dan 'melepaskan' semua sandaran—di situlah inti ajaran ini berada.
Sang Buddha mengajarkan Yang Mulia Saddha tentang dua cara bermeditasi: seperti kuda liar yang terikat pada makanan dan rangsangan indrawi, atau seperti kuda berdarah murni yang tidak terikat pada apa pun. Meditasi yang benar adalah melepaskan semua sandaran—bahkan pada objek-objek luhur sekalipun—sehingga para dewa pun memberi hormat dari jauh.
‘Namo te purisājañña,
‘Hormat kepada-Mu, wahai kuda jantan unggul,
‘Homage to you, O thoroughbred!
namo te purisuttama;
hormat kepada-Mu, wahai manusia tertinggi;
Homage to you, supreme among men!
Yassa te nābhijānāma,
Kami tidak mengetahui apa yang Engkau sandarkan,
We don’t understand
yampi nissāya jhāyasī’”ti.
dasar dari penyerapanmu.’”
the basis of your absorption.’”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.