an11.9:2.1 “Saddha, bermeditasilah seperti kuda berdarah murni,
an11.9:2.2 bukan seperti kuda liar.
an11.9:2.3 Dan bagaimanakah meditasi kuda liar itu?
an11.9:2.4 Seekor kuda liar, Saddha, yang diikat di palung makanan, bermeditasi: ‘Makanan, makanan!’
an11.9:2.5 Mengapa demikian?
an11.9:2.6 Karena, Saddha, tidak terpikir oleh kuda liar yang diikat di palung makanan:
an11.9:2.7 ‘Tugas apakah yang akan diberikan oleh pelatih kuda kepadaku hari ini? Bagaimana aku harus menanggapinya?’
an11.9:2.8 Ia yang diikat di palung makanan hanya bermeditasi: ‘Makanan, makanan!’
an11.9:2.9 Demikian pula, Saddha, ada seseorang yang bagaikan kuda liar yang pergi ke hutan, ke bawah pohon, atau ke gubuk kosong. Pikirannya dikuasai dan diliputi oleh keinginan indrawi, dan ia tidak memahami secara benar jalan keluar dari keinginan indrawi yang telah muncul.
an11.9:2.10 Dengan menyimpan keinginan indrawi di dalam batinnya, ia bermeditasi, merenung, meresapi, dan menghayati.
an11.9:2.11 Pikirannya dikuasai oleh niat buruk …
an11.9:2.12 dikuasai oleh kemalasan dan kelambanan …
an11.9:2.13 dikuasai oleh kegelisahan dan penyesalan …
an11.9:2.14 dikuasai oleh keragu-raguan, diliputi oleh keragu-raguan, dan ia tidak memahami secara benar jalan keluar dari keragu-raguan yang telah muncul.
an11.9:2.15 Dengan menyimpan keragu-raguan di dalam batinnya, ia bermeditasi, merenung, meresapi, dan menghayati.
an11.9:2.16 Mereka bermeditasi dengan bersandar pada tanah, air, api, dan angin. Mereka bermeditasi dengan bersandar pada dimensi ruang tanpa batas, kesadaran tanpa batas, kekosongan, atau dimensi bukan persepsi maupun bukan non-persepsi. Mereka bermeditasi dengan bersandar pada dunia ini atau dunia lain. Mereka bermeditasi dengan bersandar pada apa yang dilihat, didengar, dirasakan, diketahui, dicapai, dicari, atau direnungkan oleh pikiran.
an11.9:2.17 Demikianlah, Saddha, itu yang disebut meditasi seekor kuda liar.
