Ekaṁ samayaṁ āyasmā ānando vesāliyaṁ viharati beluvagāmake.
Pada suatu ketika Yang Mulia Ānanda sedang menetap di dekat Vesālī, di desa kecil Beluva.
At one time Venerable Ānanda was staying near Vesālī in the little village of Beluva.
Khotbah kepada Warga Kaya
Sutta ini memperlihatkan bagaimana Yang Mulia Ānanda, sebagai murid utama, menjawab pertanyaan seorang perumah tangga dengan ajaran yang mendalam namun praktis. Perhatikan bagaimana setiap pencapaian meditatif, setinggi apa pun, dilihat sebagai bagian dari kondisi yang tidak kekal, dan bagaimana hal ini menjadi kunci pembebasan.
Perumah tangga Dasama dari Aṭṭhakanāgara bertanya kepada Yang Mulia Ānanda apakah ada satu hal yang diajarkan Buddha yang dapat membebaskan pikiran seorang bhikkhu yang tekun. Ānanda menjawab dengan menjelaskan sebelas pintu menuju tanpa-kematian: empat jhāna, empat pencapaian tanpa bentuk, dan empat brahmavihāra. Setiap pencapaian ini, ketika direnungkan sebagai sesuatu yang dibentuk dan tidak kekal, dapat mengarah pada akhir kekotoran batin atau kelahiran kembali di alam murni.
Ekaṁ samayaṁ āyasmā ānando vesāliyaṁ viharati beluvagāmake.
Pada suatu ketika Yang Mulia Ānanda sedang menetap di dekat Vesālī, di desa kecil Beluva.
At one time Venerable Ānanda was staying near Vesālī in the little village of Beluva.
Tena kho pana samayena dasamo gahapati aṭṭhakanāgaro pāṭaliputtaṁ anuppatto hoti kenacideva karaṇīyena.
Pada saat itu, perumah tangga Dasama, seorang warga kaya, telah tiba di Pāṭaliputta untuk suatu urusan.
Now at that time the householder Dasama, a wealthy citizen, had arrived at Pāṭaliputta on some business.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.