an11.16:4.1 “Tetapi, Bhante Ānanda, apakah satu hal yang telah dibabarkan dengan baik oleh Bhagavā, yang mengetahui dan melihat, Yang Maha Suci, Yang Tercerahkan Sempurna, yang dengannya, ketika seorang bhikkhu berdiam dengan tekun, bersemangat, dan bertekad, pikirannya yang belum terbebaskan menjadi terbebaskan, atau kekotoran batin yang belum habis menjadi habis, atau keamanan tertinggi dari belenggu yang belum tercapai menjadi tercapai?”
an11.16:4.2 “Di sini, perumah tangga, seorang bhikkhu, dengan terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai pemikiran dan pemeriksaan, dengan sukacita dan kebahagiaan yang lahir dari keterasingan.
an11.16:4.3 Ia merenungkan:
an11.16:4.4 ‘Bahkan jhāna pertama ini pun adalah bentukan kehendak dan konstruksi mental.’
an11.16:4.5 Ia memahami: ‘Apa pun yang merupakan bentukan kehendak dan konstruksi mental adalah tidak kekal dan tunduk pada lenyapnya.’
an11.16:4.6 Dengan berdiam dalam hal itu, ia mencapai akhir kekotoran batin.
an11.16:4.7 Jika ia tidak mencapai akhir kekotoran batin, maka dengan sisa nafsu terhadap Dhamma dan kegembiraan terhadap Dhamma, dengan hancurnya lima belenggu yang lebih rendah, ia terlahir kembali secara spontan, mencapai parinibbāna di alam itu, dan tidak akan kembali dari alam itu.
an11.16:4.8 Ini adalah satu hal yang telah dibabarkan dengan baik oleh Bhagavā, yang mengetahui dan melihat, Yang Maha Suci, Yang Tercerahkan Sempurna, yang dengannya, ketika seorang bhikkhu berdiam dengan tekun, bersemangat, dan bertekad, pikirannya yang belum terbebaskan menjadi terbebaskan, atau kekotoran batin yang belum habis menjadi habis, atau keamanan tertinggi dari belenggu yang belum tercapai menjadi tercapai.”

