an10.89:10.1 Sataṁ sahassānaṁ nirabbudānaṁ,
an10.89:10.2 Chattiṁsati pañca ca abbudāni;
an10.89:10.3 Yamariyagarahī nirayaṁ upeti,
an10.89:10.4 Vācaṁ manañca paṇidhāya pāpakan”ti.
Khotbah tentang Kokālika
Sutta ini mengisahkan sebuah peristiwa dramatis yang menunjukkan konsekuensi dari niat buruk dan ucapan tidak bijaksana. Mari kita simak bagaimana teguran Buddha dan peristiwa yang menyusul menggambarkan hukum karma dalam kehidupan nyata.
Bhikkhu Kokālika menuduh Sāriputta dan Moggallāna memiliki keinginan jahat, meskipun Buddha telah menegurnya tiga kali. Tak lama setelah itu, tubuhnya dipenuhi bisul yang semakin membesar hingga pecah, dan ia meninggal. Ia terlahir kembali di neraka Paduma karena kebenciannya. Buddha kemudian menjelaskan lamanya kehidupan di neraka tersebut melalui perumpamaan biji wijen dan tingkatan neraka.
an10.89:10.1 Sataṁ sahassānaṁ nirabbudānaṁ,
an10.89:10.2 Chattiṁsati pañca ca abbudāni;
an10.89:10.3 Yamariyagarahī nirayaṁ upeti,
an10.89:10.4 Vācaṁ manañca paṇidhāya pāpakan”ti.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.