‹
AN 10.89

Kokālikasutta

Khotbah tentang Kokālika

Aṅguttara Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

KENALI DUNIA AN 10.89

Kenali dunia dalam sutta ini

Sutta ini mengisahkan sebuah peristiwa dramatis yang menunjukkan konsekuensi dari niat buruk dan ucapan tidak bijaksana. Mari kita simak bagaimana teguran Buddha dan peristiwa yang menyusul menggambarkan hukum karma dalam kehidupan nyata.

TOKOH & TEMPAT

Sinopsis singkat

Bhikkhu Kokālika menuduh Sāriputta dan Moggallāna memiliki keinginan jahat, meskipun Buddha telah menegurnya tiga kali. Tak lama setelah itu, tubuhnya dipenuhi bisul yang semakin membesar hingga pecah, dan ia meninggal. Ia terlahir kembali di neraka Paduma karena kebenciannya. Buddha kemudian menjelaskan lamanya kehidupan di neraka tersebut melalui perumpamaan biji wijen dan tingkatan neraka.

Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
an10.89:4.1

Atha kho kokāliko bhikkhu uṭṭhāyāsanā bhagavantaṁ abhivādetvā padakkhiṇaṁ katvā pakkāmi.

Kemudian bhikkhu Kokālika bangkit dari tempat duduknya, memberi hormat kepada Bhagavā, berjalan mengelilingi Bhagavā dengan menghadapkan sisi kanannya, lalu pergi.

Then Kokālika rose from his seat, bowed, and respectfully circled the Buddha, keeping him on his right, before leaving.

an10.89:4.2

Acirapakkantassa ca kokālikassa bhikkhuno sāsapamattīhi pīḷakāhi sabbo kāyo phuṭo ahosi.

Tidak lama setelah ia pergi, seluruh tubuhnya dipenuhi bisul-bisul sebesar biji sesawi.

Not long after he left his body erupted with boils the size of mustard seeds.

an10.89:4.3

Sāsapamattiyo hutvā muggamattiyo ahesuṁ, muggamattiyo hutvā kalāyamattiyo ahesuṁ, kalāyamattiyo hutvā kolaṭṭhimattiyo ahesuṁ, kolaṭṭhimattiyo hutvā kolamattiyo ahesuṁ, kolamattiyo hutvā āmalakamattiyo ahesuṁ, āmalakamattiyo hutvā tiṇḍukamattiyo ahesuṁ, tiṇḍukamattiyo hutvā, beḷuvasalāṭukamattiyo ahesuṁ, beḷuvasalāṭukamattiyo hutvā billamattiyo ahesuṁ, billamattiyo hutvā pabhijjiṁsu, pubbañca lohitañca pagghariṁsu.

Bisul-bisul itu tumbuh sebesar biji sawi, lalu sebesar biji kacang hijau, lalu sebesar biji kacang arab, lalu sebesar biji bidara, lalu sebesar buah bidara, lalu sebesar buah malaka, lalu sebesar buah tiṇḍuka, lalu sebesar buah bilva yang masih muda, lalu sebesar buah bilva yang matang, akhirnya pecah, dan nanah serta darah mengalir keluar.

The boils grew to the size of mung beans, then chickpeas, then jujube seeds, then jujubes, then myrobalans, then unripe wood-apples, then ripe wood-apples. Finally they burst open, and pus and blood oozed out.

an10.89:4.4

So sudaṁ kadalipattesu seti macchova visagilito.

Ia berbaring di atas daun pisang bagaikan ikan yang telah menelan racun.

He just laid down on banana leaves like a poisoned fish.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.