Ekaṁ samayaṁ āyasmā mahācundo cetīsu viharati sahajātiyaṁ.
Pada suatu ketika Yang Mulia Mahācunda sedang menetap di negeri Cetī, di Sahajāti.
At one time Venerable Mahācunda was staying in the land of the Cetīs at Sahajāti.
Sutta Tentang Pembual
Sutta ini mengajak kita merenungkan tentang kejujuran dalam praktik spiritual. Mari kita simak bagaimana seorang pembual diuji dan apa yang terungkap dari dalam dirinya, serta sepuluh kualitas yang justru menjadi penghambat kemajuan sejati.
Yang Mulia Mahācunda, saat menetap di negeri Cetī, menjelaskan kepada para bhikkhu tentang seorang bhikkhu yang membual dan menyombongkan pencapaian meditasi tingkat tinggi. Ketika diuji oleh Sang Tathāgata atau siswa-Nya yang mahir, pembual itu menjadi bingung dan terpuruk. Melalui pemeriksaan batin, terungkap bahwa ia memiliki sepuluh kualitas buruk, yang semuanya merupakan kemunduran dalam Dhamma dan Vinaya. Sutta ini diakhiri dengan pernyataan bahwa tanpa meninggalkan sepuluh kualitas itu, mustahil mencapai kemajuan sejati dalam latihan.
Ekaṁ samayaṁ āyasmā mahācundo cetīsu viharati sahajātiyaṁ.
Pada suatu ketika Yang Mulia Mahācunda sedang menetap di negeri Cetī, di Sahajāti.
At one time Venerable Mahācunda was staying in the land of the Cetīs at Sahajāti.
Tatra kho āyasmā mahācundo bhikkhū āmantesi:
Di sana Yang Mulia Mahācunda berkata kepada para bhikkhu:
There he addressed the mendicants:
“āvuso bhikkhave”ti.
“Sahabat-sahabat, para bhikkhu!”
“Reverends, mendicants!”
“Āvuso”ti kho te bhikkhū āyasmato mahācundassa paccassosuṁ.
“Sahabat,” para bhikkhu itu menjawab Yang Mulia Mahācunda.
“Reverend,” they replied.
Āyasmā mahācundo etadavoca:
Yang Mulia Mahācunda berkata demikian:
Venerable Mahācunda said this:
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.