“Yathā kathaṁ pana, bhante, siyā bhikkhuno tathārūpo samādhipaṭilābho yathā neva pathaviyaṁ pathavisaññī assa, na āpasmiṁ āposaññī assa na tejasmiṁ tejosaññī assa, na vāyasmiṁ vāyosaññī assa, na ākāsānañcāyatane ākāsānañcāyatanasaññī assa, na viññāṇañcāyatane viññāṇañcāyatanasaññī assa, na ākiñcaññāyatane ākiñcaññāyatanasaññī assa, na nevasaññānāsaññāyatane nevasaññānāsaññāyatanasaññī assa, na idhaloke idhalokasaññī assa, na paraloke paralokasaññī assa; saññī ca pana assā”ti?
“Tetapi bagaimanakah, Bhante, seorang bhikkhu dapat memperoleh konsentrasi sedemikian rupa sehingga ia tidak menganggap tanah sebagai tanah, tidak menganggap air sebagai air, tidak menganggap api sebagai api, tidak menganggap udara sebagai udara, tidak menganggap landasan ruang tanpa batas sebagai landasan ruang tanpa batas, tidak menganggap landasan kesadaran tanpa batas sebagai landasan kesadaran tanpa batas, tidak menganggap landasan kekosongan sebagai landasan kekosongan, tidak menganggap landasan bukan persepsi maupun bukan non-persepsi sebagai landasan bukan persepsi maupun bukan non-persepsi, tidak menganggap dunia ini sebagai dunia ini, tidak menganggap dunia lain sebagai dunia lain; namun ia tetap memiliki persepsi?”
“But how could this be, sir?”

