an10.62:1.1 “Purimā, bhikkhave, koṭi na paññāyati bhavataṇhāya: ‘ito pubbe bhavataṇhā nāhosi, atha pacchā samabhavī’ti.
an10.62:1.2 Evañcetaṁ, bhikkhave, vuccati, atha ca pana paññāyati: ‘idappaccayā bhavataṇhā’ti.
Khotbah tentang Ketagihan
Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana segala sesuatu di dalam batin tidak muncul tanpa sebab. Mari kita telusuri bersama rantai sebab-akibat yang dipaparkan, dari hal yang tampak sederhana seperti pergaulan hingga mencapai kebebasan.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha menjelaskan bahwa ketagihan terhadap kelangsungan hidup (bhavataṇhā) tidak memiliki awal yang dapat diketahui, namun memiliki kondisi yang jelas. Beliau memaparkan rantai sebab-akibat yang berawal dari pergaulan dengan orang yang bukan orang baik, yang mengarah pada ketidaktahuan dan akhirnya ketagihan. Sebaliknya, pergaulan dengan orang baik memicu rantai positif yang berpuncak pada pengetahuan dan kebebasan. Ajaran ini diilustrasikan dengan perumpamaan hujan yang mengalir dari puncak gunung hingga memenuhi samudra.
an10.62:1.1 “Purimā, bhikkhave, koṭi na paññāyati bhavataṇhāya: ‘ito pubbe bhavataṇhā nāhosi, atha pacchā samabhavī’ti.
an10.62:1.2 Evañcetaṁ, bhikkhave, vuccati, atha ca pana paññāyati: ‘idappaccayā bhavataṇhā’ti.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.