Puna caparaṁ, bhikkhave, rājā uccaṭṭhāniyaṁ nīce ṭhāne ṭhapeti.
Selanjutnya, para bhikkhu, raja menurunkan seseorang dari kedudukan tinggi ke kedudukan rendah.
Furthermore, the king demotes someone to a lower position.
Sutta tentang Memasuki Istana Kerajaan
Sutta ini menyajikan sebuah daftar yang jelas dan terstruktur. Saat membacanya, perhatikan bagaimana setiap bahaya dibangun dengan pola yang sama, yang menekankan betapa mudahnya seorang bhikkhu menjadi sasaran tuduhan atau kecurigaan di lingkungan yang penuh intrik dan kekuasaan seperti istana kerajaan.
Dalam sutta ini, Sang Buddha menjelaskan sepuluh bahaya yang melekat pada praktik seorang bhikkhu memasuki lingkungan istana kerajaan. Bahaya-bahaya ini berkisar dari kecurigaan raja dan para penghuni istana terhadap hubungan terlarang, hingga tuduhan tidak berdasar atas berbagai masalah internal istana, serta paparan terhadap kemewahan dan kenikmatan indria yang tidak pantas bagi seorang petapa. Sutta ini menekankan pentingnya kehati-hatian dan kesadaran akan risiko dalam berinteraksi dengan kekuasaan duniawi.
Puna caparaṁ, bhikkhave, rājā uccaṭṭhāniyaṁ nīce ṭhāne ṭhapeti.
Selanjutnya, para bhikkhu, raja menurunkan seseorang dari kedudukan tinggi ke kedudukan rendah.
Furthermore, the king demotes someone to a lower position.
Yesaṁ taṁ amanāpaṁ tesaṁ evaṁ hoti:
Mereka yang tidak menyukai hal itu berpikir:
Those who are upset by this think:
‘rājā kho pabbajitena saṁsaṭṭho.
'Raja dekat dengan petapa itu.
‘The king is close to that monk.
Siyā nu kho pabbajitassa kamman’ti.
Mungkinkah ini perbuatan seorang bhikkhu?’
Could this be the monk’s doing?’
Ayaṁ, bhikkhave, sattamo ādīnavo rājantepurappavesane.
Ini, para bhikkhu, adalah bahaya ketujuh dari memasuki lingkungan istana kerajaan.
This is the seventh drawback of entering a royal compound.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.