Puna caparaṁ, bhikkhave, rañño antepure aññataraṁ ratanaṁ nassati.
Selanjutnya, para bhikkhu, sebuah permata hilang di suatu tempat dalam istana kerajaan.
Furthermore, a gem is lost somewhere in the royal compound.
Sutta tentang Memasuki Istana Kerajaan
Sutta ini menyajikan sebuah daftar yang jelas dan terstruktur. Saat membacanya, perhatikan bagaimana setiap bahaya dibangun dengan pola yang sama, yang menekankan betapa mudahnya seorang bhikkhu menjadi sasaran tuduhan atau kecurigaan di lingkungan yang penuh intrik dan kekuasaan seperti istana kerajaan.
Dalam sutta ini, Sang Buddha menjelaskan sepuluh bahaya yang melekat pada praktik seorang bhikkhu memasuki lingkungan istana kerajaan. Bahaya-bahaya ini berkisar dari kecurigaan raja dan para penghuni istana terhadap hubungan terlarang, hingga tuduhan tidak berdasar atas berbagai masalah internal istana, serta paparan terhadap kemewahan dan kenikmatan indria yang tidak pantas bagi seorang petapa. Sutta ini menekankan pentingnya kehati-hatian dan kesadaran akan risiko dalam berinteraksi dengan kekuasaan duniawi.
Puna caparaṁ, bhikkhave, rañño antepure aññataraṁ ratanaṁ nassati.
Selanjutnya, para bhikkhu, sebuah permata hilang di suatu tempat dalam istana kerajaan.
Furthermore, a gem is lost somewhere in the royal compound.
Tattha rañño evaṁ hoti:
Kemudian sang raja berpikir:
So the king thinks:
‘na kho idha añño koci pavisati, aññatra pabbajitena.
‘Tidak ada orang lain yang masuk ke sini, kecuali seorang petapa.
‘No-one else has entered here, except that monk.
Siyā nu kho pabbajitassa kamman’ti.
Mungkinkah ini perbuatan seorang petapa?"
Could this be the monk’s doing?’
Ayaṁ, bhikkhave, tatiyo ādīnavo rājantepurappavesane.
Ini, para bhikkhu, adalah bahaya ketiga dari memasuki lingkungan istana kerajaan.
This is the third drawback of entering a royal compound.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.