Ekaṁ samayaṁ bhagavā kusinārāyaṁ viharati baliharaṇe vanasaṇḍe.
Pada suatu ketika, Sang Bhagavā sedang menetap di dekat Kusinārā, di Hutan Persembahan.
At one time the Buddha was staying near Kusinārā in the Forest of Offerings.
Sutta di Kusinārā
Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana kita berkomunikasi, terutama saat ingin mengoreksi atau menegur orang lain. Mari kita simak syarat-syarat yang diajarkan Sang Buddha agar teguran kita lahir dari kebijaksanaan dan cinta kasih, bukan dari reaksi emosional.
Dalam sutta ini, Sang Buddha menjelaskan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang bhikkhu sebelum menegur atau mengoreksi bhikkhu lain. Ia menguraikan lima hal yang harus direnungkan dalam diri sendiri—kemurnian perilaku badan, ucapan, pikiran cinta kasih, penguasaan ajaran, dan penguasaan vinaya—serta lima prinsip yang harus ditegakkan: berbicara pada waktu yang tepat, sesuai fakta, dengan lembut, bermanfaat, dan dengan pikiran cinta kasih. Sutta ini menekankan pentingnya introspeksi dan tanggung jawab etis dalam komunikasi antar sesama praktisi.
Ekaṁ samayaṁ bhagavā kusinārāyaṁ viharati baliharaṇe vanasaṇḍe.
Pada suatu ketika, Sang Bhagavā sedang menetap di dekat Kusinārā, di Hutan Persembahan.
At one time the Buddha was staying near Kusinārā in the Forest of Offerings.
Tatra kho bhagavā bhikkhū āmantesi:
Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:
There the Buddha addressed the mendicants,
“bhikkhavo”ti.
"Para bhikkhu!"
“Mendicants!”
“Bhadante”ti te bhikkhū bhagavato paccassosuṁ.
"Yang Mulia," jawab para bhikkhu itu kepada Sang Bhagavā.
“Venerable sir,” they replied.
Bhagavā etadavoca:
Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
The Buddha said this:
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.