Handa ca dāni mayaṁ, bhante, gacchāma.
Baiklah, Bhante, kini kami akan pergi.
Well, now, sir, I must go.
Kosala (2)
Sutta ini memperlihatkan momen yang langka dan hangat: seorang raja yang baru menang perang datang bukan untuk memamerkan kekuasaan, melainkan untuk bersujud dan mengungkapkan rasa terima kasihnya. Simaklah alasan-alasan yang ia sampaikan, karena melalui kata-kata seorang raja, kita diajak merenungkan kualitas-kualitas luhur yang membuat seseorang layak dihormati.
Raja Pasenadi dari Kosala, baru saja memenangkan pertempuran, mengunjungi Buddha di Hutan Jeta. Ia memberikan penghormatan tertinggi kepada Buddha dan menjelaskan alasannya: rasa terima kasih dan balas budi. Ia merinci sepuluh kualitas mulia Buddha yang membuatnya layak dihormati, mulai dari dedikasinya pada kesejahteraan banyak orang hingga pencapaian kebebasan sempurna.
Handa ca dāni mayaṁ, bhante, gacchāma.
Baiklah, Bhante, kini kami akan pergi.
Well, now, sir, I must go.
Bahukiccā mayaṁ bahukaraṇīyā”ti.
Kami memiliki banyak tugas dan banyak yang harus dilakukan.”
I have many duties, and much to do.”
“Yassadāni tvaṁ, mahārāja, kālaṁ maññasī”ti.
“Baiklah, Yang Mulia, silakan pergi sesuai kehendak Baginda.”
“Please, Great King, go at your convenience.”
Atha kho rājā pasenadi kosalo uṭṭhāyāsanā bhagavantaṁ abhivādetvā padakkhiṇaṁ katvā pakkāmīti.
Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala bangkit dari duduknya, memberi hormat kepada Bhagavā, berjalan mengelilingi Beliau dengan menghadapkan sisi kanannya, lalu pergi.
Then King Pasenadi rose from his seat, bowed, and respectfully circled the Buddha, keeping him on his right, before leaving.
Dasamaṁ.
Yang kesepuluh.
Mahāvaggo tatiyo.
Bab Besar, yang ketiga.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.