Catasso imā, bhikkhave, saññā.
Ada empat persepsi ini, para bhikkhu.
There are these four perceptions.
Kosala (1)
Sutta ini mengajak kita merenungkan apa yang selama ini kita anggap paling tinggi dan berharga. Mari kita telusuri bagaimana Sang Buddha menyusun tangga pencapaian dari yang duniawi hingga yang paling luhur, dan apa kesimpulan beliau tentang semuanya.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha mengajarkan tentang kefanaan segala sesuatu yang dianggap tertinggi, mulai dari kekuasaan duniawi Raja Pasenadi, keagungan Mahābrahmā, hingga pencapaian meditasi dan pandangan-pandangan luhur. Dengan melihat bahwa bahkan yang terunggul pun mengalami perubahan dan kemunduran, seorang siswa mulia yang terpelajar menjadi jemu dan terbebas dari nafsu. Khotbah ini memuncak pada penegasan Buddha bahwa ia mengajarkan pemahaman penuh atas kenikmatan indria, bentuk, dan perasaan, serta Nibbāna tertinggi dalam kehidupan ini juga.
Catasso imā, bhikkhave, saññā.
Ada empat persepsi ini, para bhikkhu.
There are these four perceptions.
Katamā catasso?
Apakah empat itu?
What four?
Parittameko sañjānāti,
Seseorang mempersepsikan yang terbatas,
One individual perceives the limited.
mahaggatameko sañjānāti,
seseorang mempersepsikan yang luas,
One individual perceives the expansive.
appamāṇameko sañjānāti,
seseorang mempersepsikan yang tanpa batas,
One individual perceives the limitless.
‘natthi kiñcī’ti ākiñcaññāyatanameko sañjānāti—
seseorang, dengan menyadari ‘tidak ada apa pun’, mempersepsikan landasan kekosongan—
One individual, aware that ‘there is nothing at all’, perceives the dimension of nothingness.
imā kho, bhikkhave, catasso saññā.
Ini, para bhikkhu, adalah empat persepsi.
These are the four perceptions.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.