an10.23:1.1 “Atthi, bhikkhave, dhammā kāyena pahātabbā, no vācāya.
an10.23:1.2 Atthi, bhikkhave, dhammā vācāya pahātabbā, no kāyena.
an10.23:1.3 Atthi, bhikkhave, dhammā neva kāyena pahātabbā no vācāya, paññāya disvā pahātabbā.
Tentang Tubuh
Sutta ini mengajak kita merenungkan bahwa tidak semua masalah batin bisa diselesaikan hanya dengan tindakan lahiriah. Ada lapisan yang lebih dalam yang menuntut kebijaksanaan untuk melihat dan melepaskannya.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha membedakan tiga cara melepaskan hal-hal yang tidak bermanfaat: melalui tindakan tubuh, melalui ucapan, dan melalui kebijaksanaan. Beliau menjelaskan bahwa pelanggaran etika tertentu harus diperbaiki melalui perilaku, sementara akar-akar batin seperti keserakahan, kebencian, dan delusi hanya bisa ditinggalkan dengan melihatnya berulang kali melalui kebijaksanaan. Sutta ditutup dengan penjelasan tentang bagaimana mengenali seorang bhikkhu yang telah atau belum terbebas dari kotoran batin ini.
an10.23:1.1 “Atthi, bhikkhave, dhammā kāyena pahātabbā, no vācāya.
an10.23:1.2 Atthi, bhikkhave, dhammā vācāya pahātabbā, no kāyena.
an10.23:1.3 Atthi, bhikkhave, dhammā neva kāyena pahātabbā no vācāya, paññāya disvā pahātabbā.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.