an10.21:11.1 Selanjutnya, para bhikkhu, dengan mata dewa yang murni dan melampaui mata manusia, Sang Tathāgata melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan terlahir kembali—rendah dan mulia, cantik dan buruk, di alam bahagia atau alam sengsara. Ia memahami bagaimana makhluk-makhluk terlahir kembali sesuai perbuatannya: ‘Makhluk-makhluk yang mulia ini telah melakukan perbuatan buruk melalui tubuh, ucapan, dan pikiran. Mereka mencela para mulia; mereka berpandangan salah; dan mereka memilih untuk bertindak berdasarkan pandangan salah itu. Setelah kematian, saat hancurnya tubuh, mereka terlahir kembali di alam kehilangan, alam sengsara, alam rendah, neraka. Akan tetapi, makhluk-makhluk yang mulia ini telah melakukan perbuatan baik melalui tubuh, ucapan, dan pikiran. Mereka tidak pernah mencela para mulia; mereka berpandangan benar; dan mereka memilih untuk bertindak berdasarkan pandangan benar itu. Setelah kematian, saat hancurnya tubuh, mereka terlahir kembali di alam bahagia, alam surga.’ Demikianlah, dengan mata dewa yang murni dan melampaui mata manusia, ia melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan terlahir kembali—rendah dan mulia, cantik dan buruk, di alam bahagia atau alam sengsara. Ia memahami bagaimana makhluk-makhluk terlahir kembali sesuai perbuatannya.
an10.21:11.2 Karena Sang Tathāgata, para bhikkhu, dengan mata dewa yang murni dan melampaui mata manusia … memahami bagaimana makhluk-makhluk terlahir kembali sesuai perbuatannya, maka ini, para bhikkhu, adalah kekuatan Tathāgata, yang dengan kekuatan itu Sang Tathāgata mengaku tempat yang tertinggi, mengaumkan auman singa di tengah kumpulan, dan memutar roda Brahmā.
