an10.217:8.1 Pisuṇavāco hoti, ito sutvā amutra akkhātā imesaṁ bhedāya, amutra vā sutvā imesaṁ akkhātā amūsaṁ bhedāya. Iti samaggānaṁ vā bhettā bhinnānaṁ vā anuppadātā vaggārāmo vaggarato vagganandī, vaggakaraṇiṁ vācaṁ bhāsitā hoti.
Disengaja (1)
Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana pilihan tindakan sehari-hari—baik melalui tubuh, ucapan, maupun pikiran—memiliki konsekuensi yang pasti. Mari kita simak dengan tenang, karena ajaran ini bukan sekadar daftar larangan, melainkan gambaran jernih tentang hukum sebab-akibat yang bekerja dalam kehidupan.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha menjelaskan bahwa perbuatan yang disengaja (sañcetanika kamma) tidak akan hilang tanpa dialami akibatnya, baik dalam kehidupan ini maupun kehidupan mendatang. Beliau merinci sepuluh jenis tindakan tidak terampil—tiga melalui tubuh, empat melalui ucapan, dan tiga melalui pikiran—yang membawa penderitaan dan kelahiran kembali di alam rendah. Sebaliknya, sepuluh tindakan terampil yang berlawanan membawa kebahagiaan dan kelahiran kembali di alam surga, bagaikan dadu yang selalu jatuh dengan sisi yang benar.
an10.217:8.1 Pisuṇavāco hoti, ito sutvā amutra akkhātā imesaṁ bhedāya, amutra vā sutvā imesaṁ akkhātā amūsaṁ bhedāya. Iti samaggānaṁ vā bhettā bhinnānaṁ vā anuppadātā vaggārāmo vaggarato vagganandī, vaggakaraṇiṁ vācaṁ bhāsitā hoti.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.