“Katamo ca, bhikkhave, saṁsappanīyapariyāyo dhammapariyāyo?
“Apakah, para bhikkhu, penjelasan Dhamma tentang makhluk melata itu?
“What is the exposition of the teaching on creepy creatures?
Khutbah tentang Makhluk Melata
Sutta ini menggunakan metafora yang kuat dan gamblang tentang 'makhluk melata' untuk menjelaskan hukum sebab-akibat. Saat membacanya, perhatikan bagaimana Sang Buddha merinci sepuluh jenis perbuatan buruk dan baik, serta bagaimana masing-masing mengarah pada konsekuensi kelahiran yang berbeda.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha mengajarkan kepada para bhikkhu tentang 'makhluk melata' (saṁsappanīya), sebuah metafora untuk orang-orang yang melakukan perbuatan buruk melalui tubuh, ucapan, dan pikiran. Mereka yang 'melata' dengan perbuatan bengkok akan terlahir di alam yang bengkok, seperti neraka atau alam binatang melata. Sebaliknya, mereka yang 'tidak melata' dengan perbuatan lurus akan terlahir di alam yang lurus dan bahagia, seperti surga atau keluarga kaya-raya. Khotbah ini menegaskan hukum kamma: setiap makhluk adalah pewaris perbuatannya sendiri.
“Katamo ca, bhikkhave, saṁsappanīyapariyāyo dhammapariyāyo?
“Apakah, para bhikkhu, penjelasan Dhamma tentang makhluk melata itu?
“What is the exposition of the teaching on creepy creatures?
Kammassakā, bhikkhave, sattā kammadāyādā kammayonī kammabandhū kammapaṭisaraṇā, yaṁ kammaṁ karonti—
Para bhikkhu, makhluk-makhluk adalah pemilik perbuatannya, pewaris perbuatannya. Perbuatan adalah rahim mereka, kerabat mereka, dan perlindungan mereka. Perbuatan apa pun yang mereka lakukan—
Sentient beings are the owners of their deeds and heir to their deeds. Deeds are their womb, their relative, and their refuge.
kalyāṇaṁ vā pāpakaṁ vā—tassa dāyādā bhavanti.
baik atau buruk—mereka akan menjadi pewarisnya.
They shall be the heir of whatever deeds they do, whether good or bad.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.