Kathañca, bhikkhave, bhikkhu anāvilasaṅkappo hoti?
Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu memiliki kehendak yang tidak ternoda?
And how does a mendicant have unsullied intentions?
Khotbah tentang Tempat Tinggal Para Mulia (Ke-2)
Khotbah ini menyajikan daftar kualitas yang tampak teknis, tetapi sebenarnya merupakan peta lengkap tentang bagaimana seorang yang telah mencapai pencerahan hidup. Saat membacanya, perhatikan bagaimana setiap kualitas saling terkait—dari pengendalian indra hingga kebebasan batin yang mendalam.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha menjelaskan sepuluh kualitas yang menjadi 'tempat tinggal' para mulia—yakni para Arahant—di masa lampau, sekarang, dan masa depan. Kualitas-kualitas ini mencakup telah meninggalkan lima rintangan, memiliki enam keseimbangan indra, memiliki perhatian sebagai penjaga, menggunakan empat penopang, melepaskan pandangan-pandangan pribadi, menghentikan segala pencarian, memiliki kehendak bersih, menenangkan aktivitas jasmani, serta terbebas dalam pikiran dan kebijaksanaan. Khotbah ini menegaskan bahwa semua para mulia, kapan pun waktunya, berdiam dalam sepuluh kualitas yang sama ini.
Kathañca, bhikkhave, bhikkhu anāvilasaṅkappo hoti?
Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu memiliki kehendak yang tidak ternoda?
And how does a mendicant have unsullied intentions?
Idha, bhikkhave, bhikkhuno kāmasaṅkappo pahīno hoti, byāpādasaṅkappo pahīno hoti, vihiṁsāsaṅkappo pahīno hoti.
Di sini, para bhikkhu, kehendak indria telah dilenyapkan, kehendak berniat jahat telah dilenyapkan, dan kehendak menyakiti telah dilenyapkan.
It’s when a mendicant has given up intentions of sensuality, malice, and cruelty.
Evaṁ kho, bhikkhave, bhikkhu anāvilasaṅkappo hoti.
Demikianlah, para bhikkhu, seorang bhikkhu memiliki kehendak yang tidak ternoda.
That’s how a mendicant has unsullied intentions.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.