… ‘Kāmesumicchācārassa kho pāpako vipāko—
… ‘Perbuatan salah dalam hal nafsu indria memiliki akibat yang buruk—
… ‘Sexual misconduct has a bad result
Khotbah tentang Upacara Turun Brahmana
Sutta ini mengajak kita merenungkan makna ritual dan transformasi batin. Mari kita simak bagaimana Buddha merespons praktik keagamaan yang sudah mapan dengan perspektif etis yang mendalam.
Pada hari uposatha, brahmana Jāṇussoṇī terlihat berdiri di dekat Buddha dengan pakaian baru dan rumput kusa, mempersiapkan upacara turun (paccorohaṇī) tradisional Brahmana. Buddha kemudian menjelaskan bahwa dalam disiplin Yang Mulia, upacara turun yang sesungguhnya bukanlah ritual penyembahan api, melainkan meninggalkan sepuluh perbuatan tidak bajik—mulai dari membunuh makhluk hidup hingga pandangan salah—setelah merenungkan akibat buruknya. Jāṇussoṇī mengakui keunggulan ajaran ini dan menyatakan diri sebagai umat awam yang berlindung.
… ‘Kāmesumicchācārassa kho pāpako vipāko—
… ‘Perbuatan salah dalam hal nafsu indria memiliki akibat yang buruk—
… ‘Sexual misconduct has a bad result
diṭṭhe ceva dhamme abhisamparāyañcā’ti.
baik dalam kehidupan ini maupun kehidupan yang akan datang.’
in the present life and in lives to come.’
So iti paṭisaṅkhāya kāmesumicchācāraṁ pajahati;
Dengan merenungkan demikian, ia meninggalkan perbuatan salah dalam hal nafsu indria;
Reflecting like this, they give up sexual misconduct,
kāmesumicchācārā paccorohati.
ia turun dari perbuatan salah dalam hal nafsu indria.
they descend from sexual misconduct.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.