an10.167:1.1 Pada saat itu, brahmana Jāṇussoṇī, pada hari uposatha, telah membasuh kepalanya, mengenakan sepasang jubah linen baru, dan sambil memegang segenggam rumput kusa segar, berdiri di satu sisi tidak jauh dari Bhagavā.
Khotbah tentang Upacara Turun Brahmana
Sutta ini mengajak kita merenungkan makna ritual dan transformasi batin. Mari kita simak bagaimana Buddha merespons praktik keagamaan yang sudah mapan dengan perspektif etis yang mendalam.
Pada hari uposatha, brahmana Jāṇussoṇī terlihat berdiri di dekat Buddha dengan pakaian baru dan rumput kusa, mempersiapkan upacara turun (paccorohaṇī) tradisional Brahmana. Buddha kemudian menjelaskan bahwa dalam disiplin Yang Mulia, upacara turun yang sesungguhnya bukanlah ritual penyembahan api, melainkan meninggalkan sepuluh perbuatan tidak bajik—mulai dari membunuh makhluk hidup hingga pandangan salah—setelah merenungkan akibat buruknya. Jāṇussoṇī mengakui keunggulan ajaran ini dan menyatakan diri sebagai umat awam yang berlindung.
an10.167:1.1 Pada saat itu, brahmana Jāṇussoṇī, pada hari uposatha, telah membasuh kepalanya, mengenakan sepasang jubah linen baru, dan sambil memegang segenggam rumput kusa segar, berdiri di satu sisi tidak jauh dari Bhagavā.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.