Aṅguttara Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang
KENALI DUNIA AN 10.15
Kenali dunia dalam sutta ini
Sutta ini mengajak kita merenungkan posisi ketekunan dalam praktik Dhamma. Perhatikan bagaimana berbagai perumpamaan digunakan untuk menekankan satu pesan yang sama.
Dalam sutta ini, Sang Buddha menyampaikan kepada para bhikkhu bahwa semua kualitas bermanfaat berakar pada ketekunan (appamāda). Ia menggunakan serangkaian perumpamaan—mulai dari jejak gajah, kasau rumah, hingga sungai-sungai besar yang bermuara ke samudra—untuk menggambarkan bagaimana ketekunan adalah yang terunggul di antara segala kualitas baik.
Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
“Para bhikkhu, makhluk-makhluk apa pun—baik yang tidak berkaki, berkaki dua, berkaki empat, atau berkaki banyak; yang berwujud atau tidak berwujud; yang memiliki persepsi, tanpa persepsi, atau bukan memiliki persepsi maupun bukan tanpa persepsi—Sang Tathāgata, Yang Layak, Yang Tercerahkan Sempurna, dinyatakan sebagai yang terunggul di antara mereka.
“Mendicants, the Realized One, the perfected one, the fully awakened Buddha, is said to be the best of all sentient beings—be they footless, with two feet, four feet, or many feet; with form or formless; with perception or without perception or with neither perception nor non-perception.
evamevaṁ kho, bhikkhave, ye keci kusalā dhammā, sabbe te appamādamūlakā appamādasamosaraṇā. Appamādo tesaṁ aggamakkhāyati.
Demikian pula, para bhikkhu, kualitas-kualitas bermanfaat apa pun, semuanya berakar pada ketekunan dan bermuara pada ketekunan. Ketekunan dinyatakan sebagai yang terunggul di antara kualitas-kualitas tersebut.
In the same way, all skillful qualities are rooted in diligence and meet at diligence, and diligence is said to be the best of them.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.
AN 10.15 · Sutta tentang Ketekunan | Tiga Keranjang