… ‘Micchāvimuttiyā kho pāpako vipāko—
… ‘Kebebasan yang salah memiliki akibat yang buruk—
‘Wrong freedom has a bad result
Sutta Upacara Turun (Pertama)
Sutta ini mengajak kita merenungkan makna ritual dan bagaimana praktik spiritual sejati dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita simak bagaimana Buddha menjelaskan upacara turun yang sesungguhnya.
Pada suatu hari kebaktian, Brahmana Jānussoṇi yang baru saja mandi dan mengenakan kain linen baru berdiri di dekat Buddha sambil memegang rumput segar. Buddha bertanya tentang ritual yang sedang dilakukan, dan Jānussoṇi menjelaskan upacara turun kaum brahmana yang melibatkan penyembahan api dan persembahan makanan. Buddha kemudian mengajarkan bahwa dalam disiplin Yang Mulia, upacara turun yang sejati adalah dengan melepaskan sepuluh hal yang salah, mulai dari pandangan salah hingga kebebasan salah, melalui perenungan akan akibat buruknya.
… ‘Micchāvimuttiyā kho pāpako vipāko—
… ‘Kebebasan yang salah memiliki akibat yang buruk—
‘Wrong freedom has a bad result
diṭṭhe ceva dhamme abhisamparāyañcā’ti.
baik dalam kehidupan ini maupun kehidupan yang akan datang.’
in both this life and the next.’
So iti paṭisaṅkhāya micchāvimuttiṁ pajahati;
Dengan merenungkan demikian, ia melepaskan kebebasan yang salah;
Reflecting like this, they give up wrong freedom,
micchāvimuttiyā paccorohati.
ia turun dari kebebasan yang salah.
they descend from wrong freedom.
Evaṁ kho, brāhmaṇa, ariyassa vinaye paccorohaṇī hotī”ti.
Demikianlah, brahmana, upacara turun dalam disiplin Yang Mulia.”
This is the ceremony of descent in the training of the Noble One.”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.