an10.115:21.1 Atha kho mayaṁ, bhante, yenāyasmā ānando tenupasaṅkamimhā; upasaṅkamitvā āyasmantaṁ ānandaṁ etamatthaṁ apucchimhā.
an10.115:21.2 Tesaṁ no, bhante, āyasmatā ānandena imehi ākārehi imehi padehi imehi byañjanehi attho suvibhatto”ti.
Khotbah tentang Prinsip Buruk (Ke-3)
Sutta ini memperlihatkan dinamika antara Sang Buddha, para bhikkhu, dan Ānanda dalam menggali makna ajaran. Perhatikan bagaimana Sang Buddha memberikan ruang bagi murid-Nya untuk menjelaskan, dan bagaimana Beliau kemudian mengukuhkan penjelasan tersebut.
Sang Buddha memberikan khotbah singkat tentang pentingnya mengetahui prinsip buruk dan baik beserta akibatnya, lalu tanpa menjelaskan lebih lanjut, Beliau masuk ke kediamannya. Para bhikkhu yang bingung kemudian meminta Yang Mulia Ānanda untuk menguraikan makna khotbah singkat tersebut. Ānanda menjelaskan bahwa prinsip buruk adalah sepuluh jalan salah (micchatta) dan prinsip baik adalah sepuluh jalan benar (sammatta), lengkap dengan akibat masing-masing. Sang Buddha kemudian membenarkan penjelasan Ānanda dan menyatakan bahwa Beliau sendiri akan menjawab dengan cara yang sama persis.
an10.115:21.1 Atha kho mayaṁ, bhante, yenāyasmā ānando tenupasaṅkamimhā; upasaṅkamitvā āyasmantaṁ ānandaṁ etamatthaṁ apucchimhā.
an10.115:21.2 Tesaṁ no, bhante, āyasmatā ānandena imehi ākārehi imehi padehi imehi byañjanehi attho suvibhatto”ti.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.