Aṅguttara Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang
KENALI DUNIA AN 10.115
Kenali dunia dalam sutta ini
Sutta ini memperlihatkan dinamika antara Sang Buddha, para bhikkhu, dan Ānanda dalam menggali makna ajaran. Perhatikan bagaimana Sang Buddha memberikan ruang bagi murid-Nya untuk menjelaskan, dan bagaimana Beliau kemudian mengukuhkan penjelasan tersebut.
Sang Buddha memberikan khotbah singkat tentang pentingnya mengetahui prinsip buruk dan baik beserta akibatnya, lalu tanpa menjelaskan lebih lanjut, Beliau masuk ke kediamannya. Para bhikkhu yang bingung kemudian meminta Yang Mulia Ānanda untuk menguraikan makna khotbah singkat tersebut. Ānanda menjelaskan bahwa prinsip buruk adalah sepuluh jalan salah (micchatta) dan prinsip baik adalah sepuluh jalan benar (sammatta), lengkap dengan akibat masing-masing. Sang Buddha kemudian membenarkan penjelasan Ānanda dan menyatakan bahwa Beliau sendiri akan menjawab dengan cara yang sama persis.
Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
“Sungguh, sahabat Ānanda, Sang Bhagavā mengetahui apa yang diketahui, melihat apa yang dilihat; Beliau adalah mata, adalah pengetahuan, adalah perwujudan Dhamma, adalah perwujudan Brahmā; Beliau adalah pengajar, penyampai, penuntun makna, pemberi tanpa-kematian, penguasa Dhamma, Sang Tathāgata.
“Certainly he is the Buddha, the one who knows and sees. He is vision, he is knowledge, he is the manifestation of principle, he is the manifestation of divinity. He is the preacher, the proclaimer, the elucidator of meaning, the bestower of freedom from death, the lord of truth, the Realized One.
Yang Mulia Ānanda mampu menguraikan secara terperinci makna dari ringkasan singkat yang diucapkan oleh Sang Bhagavā ini, yang belum diuraikan maknanya secara terperinci.
You are capable of explaining in detail the meaning of this brief summary recital given by the Buddha.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.
AN 10.115 · Khotbah tentang Prinsip Buruk (Ke-3) | Tiga Keranjang