Yato ca kho, bhikkhave, bhikkhu saddho ca hoti, sīlavā ca, bahussuto ca, dhammakathiko ca, parisāvacaro ca, visārado ca parisāya dhammaṁ deseti, vinayadharo ca, anekavihitañca pubbenivāsaṁ anussarati, seyyathidaṁ—ekampi jātiṁ dvepi jātiyo …pe… iti sākāraṁ sauddesaṁ anekavihitaṁ pubbenivāsaṁ anussarati, dibbena ca cakkhunā visuddhena atikkantamānusakena …pe… yathākammūpage satte pajānāti, āsavānañca khayā anāsavaṁ cetovimuttiṁ paññāvimuttiṁ diṭṭheva dhamme sayaṁ abhiññā sacchikatvā upasampajja viharati.
Tetapi ketika, para bhikkhu, seorang bhikkhu memiliki keyakinan, bermoral, terpelajar, menjadi pembabar Dhamma, sering menghadiri perkumpulan, mengajarkan Dhamma kepada perkumpulan dengan percaya diri, ahli dalam Vinaya, mengingat berbagai kehidupan lampaunya, yaitu satu kelahiran, dua kelahiran … demikianlah dengan ciri dan perinciannya ia mengingat berbagai kehidupan lampaunya, dengan mata dewa yang jernih melampaui mata manusia … ia memahami makhluk-makhluk yang meninggal dunia dan terlahir kembali sesuai perbuatan mereka, dan dengan hancurnya noda-noda, ia mencapai dan berdiam dalam kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan yang tanpa noda, setelah menyadarinya sendiri dalam kehidupan ini.
When they are faithful, ethical, and learned, a Dhamma speaker, one who frequents assemblies, one who teaches Dhamma to the assembly with assurance, an expert in the training, one who recollects their many kinds of past lives, one who with clairvoyance that surpasses the human sees sentient beings passing away and being reborn, and one who lives having realized the ending of defilements,
