Pada suatu ketika, sejumlah bhikkhu berdiam di wilayah Kosala, di suatu hutan tertentu. Mereka bersikap angkuh, sombong, gelisah, suka mencela, berbicara tidak terkendali, tidak memiliki perhatian, tidak memiliki kewaspadaan, tidak terkonsentrasi, dengan pikiran yang mengembara dan indria yang tidak terkendali.
At one time several mendicants were staying in the Kosalan lands in a certain forest grove. They were haughty, insolent, fickle, scurrilous, loose-tongued, unmindful, lacking situational awareness and immersion, with straying minds and undisciplined faculties.
Atha kho yā tasmiṁ vanasaṇḍe adhivatthā devatā tesaṁ bhikkhūnaṁ anukampikā atthakāmā te bhikkhū saṁvejetukāmā yena te bhikkhū tenupasaṅkami; upasaṅkamitvā te bhikkhū gāthāhi ajjhabhāsi:
Kemudian, dewata yang berdiam di hutan itu, yang berbelas kasih kepada para bhikkhu itu dan menginginkan kebaikan mereka, mendekati para bhikkhu itu dengan keinginan untuk membangkitkan rasa ketergetaran dalam diri mereka. Setelah mendekat, dewata itu berkata kepada para bhikkhu itu dalam syair-syair:
The deity haunting that forest had sympathy for those mendicants, and wanted what’s best for them. So they approached those mendicants wanting to stir them up, and addressed them in verse:
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.
SN 9.13 · Khotbah tentang Indria yang Tidak Terkendali | Tiga Keranjang