‹
SN 56.39

Indakhīlasutta

Khotbah tentang Tiang Indra

Saṁyutta Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

KENALI DUNIA SN 56.39

Kenali dunia dalam sutta ini

Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
sn56.39:4.1

Seyyathāpi, bhikkhave, ayokhīlo vā indakhīlo vā gambhīranemo sunikhāto acalo asampakampī.

Misalkan, para bhikkhu, ada tiang besi atau tiang Indra dengan fondasi yang dalam, tertanam kokoh, tidak tergoyahkan dan tidak bergetar.

Suppose there was an iron pillar or an Indra’s pillar with deep foundations, firmly embedded, imperturbable and unshakable.

sn56.39:4.2

Puratthimāya cepi disāya āgaccheyya bhusā vātavuṭṭhi, neva saṅkampeyya na sampakampeyya na sampacāleyya; pacchimāya cepi disāya …pe… uttarāya cepi disāya …pe… dakkhiṇāya cepi disāya āgaccheyya bhusā vātavuṭṭhi, neva saṅkampeyya na sampakampeyya na sampacāleyya.

Bahkan jika badai dahsyat bertiup dari arah timur, barat, utara, dan selatan, badai itu tidak akan mampu membuatnya bergoyang, bergetar, atau gemetar.

Even if violent storms were to blow up out of the east, the west, the north, and the south, they couldn’t make it shake or rock or tremble.

sn56.39:4.3

Taṁ kissa hetu?

Mengapa demikian?

Why is that?

sn56.39:4.4

Gambhīrattā, bhikkhave, nemassa sunikhātattā indakhīlassa.

Karena, para bhikkhu, tiang Indra itu tertanam dalam dengan fondasi yang kokoh.

It’s because that Indra’s pillar is firmly embedded, with deep foundations.

sn56.39:4.5

Evameva kho, bhikkhave, ye ca kho keci samaṇā vā brāhmaṇā vā ‘idaṁ dukkhan’ti yathābhūtaṁ pajānanti …pe…

Demikian pula, para bhikkhu, para petapa atau brahmana mana pun yang memahami sebagaimana adanya ‘ini adalah penderitaan’ … (dan seterusnya) …

In the same way, there are ascetics and brahmins who truly understand about suffering, its origin, its cessation, and the path.

sn56.39:4.6

ayaṁ dukkhanirodhagāminī paṭipadā’ti yathābhūtaṁ pajānanti, te na aññassa samaṇassa vā brāhmaṇassa vā mukhaṁ ullokenti:

yang memahami sebagaimana adanya ‘ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan’, mereka tidak menengadah ke wajah petapa atau brahmana lain dengan pikiran:

They don’t gaze up at the face of another ascetic or brahmin, thinking:

sn56.39:4.7

‘ayaṁ nūna bhavaṁ jānaṁ jānāti, passaṁ passatī’ti.

‘Yang mulia ini tentu mengetahui apa yang ia ketahui, melihat apa yang ia lihat.’

‘Surely this worthy one knows and sees.’

sn56.39:4.8

Taṁ kissa hetu?

Mengapa demikian?

Why is that?

sn56.39:4.9

Sudiṭṭhattā, bhikkhave, catunnaṁ ariyasaccānaṁ.

Karena, para bhikkhu, mereka telah melihat dengan jelas keempat kebenaran mulia.

It’s because they have clearly seen the four noble truths.

sn56.39:4.10

Katamesaṁ catunnaṁ?

Apakah empat itu?

What four?

sn56.39:4.11

Dukkhassa ariyasaccassa …pe… dukkhanirodhagāminiyā paṭipadāya ariyasaccassa.

Kebenaran mulia tentang penderitaan … (dan seterusnya) … kebenaran mulia tentang jalan menuju lenyapnya penderitaan.

The noble truths of suffering, its origin, its cessation, and the path.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.