Akan tetapi, para bhikkhu, para petapa atau brahmana mana pun yang memahami sebagaimana adanya ‘ini adalah penderitaan’, yang memahami sebagaimana adanya ‘ini adalah asal-mula penderitaan’, yang memahami sebagaimana adanya ‘ini adalah lenyapnya penderitaan’, yang memahami sebagaimana adanya ‘ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan’—
There are ascetics and brahmins who do truly understand about suffering, its origin, its cessation, and the path.
te kho me, bhikkhave, samaṇā vā brāhmaṇā vā samaṇesu ceva samaṇasammatā brāhmaṇesu ca brāhmaṇasammatā, te ca panāyasmanto sāmaññatthañca brahmaññatthañca diṭṭheva dhamme sayaṁ abhiññā sacchikatvā upasampajja viharantī”ti.
para petapa atau brahmana itu, para bhikkhu, Kuanggap sebagai petapa di antara para petapa dan brahmana di antara para brahmana, dan para mulia itu mencapai tujuan kehidupan pertapaan dan tujuan kehidupan kebrahmanaan, dan hidup setelah merealisasinya dengan pengetahuan langsung mereka sendiri dalam kehidupan ini.”
I deem them as true ascetics and brahmins. Those venerables realize the goal of life as an ascetic or brahmin, and live having realized it with their own insight.”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.
SN 56.22 · Khotbah di Desa Koṭi (Ke Dua) | Tiga Keranjang