sn54.10:6.1 Pada saat, Ānanda, seorang bhikkhu berlatih demikian: ‘Aku akan menarik napas sambil merasakan kegembiraan’; ia berlatih demikian: ‘Aku akan menghembuskan napas sambil merasakan kegembiraan’;
sn54.10:6.2 ia berlatih demikian: ‘Aku akan menarik napas sambil merasakan kebahagiaan’; ia berlatih demikian: ‘Aku akan menghembuskan napas sambil merasakan kebahagiaan’;
sn54.10:6.3 ia berlatih demikian: ‘Aku akan menarik napas sambil merasakan bentukan pikiran’; ia berlatih demikian: ‘Aku akan menghembuskan napas sambil merasakan bentukan pikiran’;
sn54.10:6.4 ia berlatih demikian: ‘Aku akan menarik napas sambil menenangkan bentukan pikiran’; ia berlatih demikian: ‘Aku akan menghembuskan napas sambil menenangkan bentukan pikiran’—
sn54.10:6.5 pada saat itu, Ānanda, bhikkhu itu berdiam dengan merenungkan perasaan sebagai perasaan—tekun, dengan pemahaman jernih, dan penuh kesadaran, setelah melepaskan ketamakan dan ketidakpuasan terhadap dunia.
sn54.10:6.6 Mengapa demikian?
sn54.10:6.7 Karena, Ānanda, pengamatan yang seksama terhadap napas masuk dan napas keluar adalah salah satu aspek dari perasaan, demikianlah Aku katakan.
sn54.10:6.8 Oleh karena itu, Ānanda, pada saat itu bhikkhu berdiam dengan merenungkan perasaan sebagai perasaan—tekun, dengan pemahaman jernih, dan penuh kesadaran, setelah melepaskan ketamakan dan ketidakpuasan terhadap dunia.