“Evameva kho, brāhmaṇa, yo so bhikkhu arahaṁ khīṇāsavo vusitavā katakaraṇīyo ohitabhāro anuppattasadattho parikkhīṇabhavasaṁyojano sammadaññāvimutto, tassa yo pubbe chando ahosi arahattappattiyā, arahattappatte yo tajjo chando so paṭippassaddho;
“Demikian pula, brahmana, seorang bhikkhu yang adalah seorang Arahant, yang noda-nodanya telah hancur, yang telah menjalani kehidupan suci, yang telah melakukan apa yang harus dilakukan, yang telah meletakkan beban, yang telah mencapai tujuannya sendiri, yang telah sepenuhnya memutus belenggu kelahiran kembali, dan yang terbebaskan dengan benar melalui pengetahuan sempurna—pada dirinya, keinginan yang sebelumnya ada untuk mencapai Kearahattaan, ketika Kearahattaan telah tercapai, keinginan yang bersangkutan itu menjadi reda;
“In the same way, take a mendicant who is perfected—with defilements ended, who has completed the spiritual journey, done what had to be done, laid down the burden, achieved their heart’s goal, utterly ended the fetter of continued existence, and is rightly freed through enlightenment. They formerly had the desire to attain perfection, but when they attained perfection the corresponding desire faded away.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.
SN 51.15 · Khotbah kepada Brahmana Uṇṇābha | Tiga Keranjang