Kemudian bhikkhu itu, setelah menyetujui dan menghargai perkataan Sang Bhagavā, bangkit dari duduknya, memberi hormat kepada Sang Bhagavā, berjalan mengelilingi Beliau dengan menjaga Beliau di sisi kanannya, lalu pergi.
And then that mendicant approved and agreed with what the Buddha said. He got up from his seat, bowed and respectfully circled the Buddha, keeping him on his right, before leaving.
Kemudian bhikkhu itu, hidup sendirian, mengasingkan diri, tekun, bersemangat, dan bertekad, tidak lama kemudian—demi tujuan yang karenanya para putra keluarga dengan benar meninggalkan kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah—mencapai puncak tertinggi kehidupan suci, dan dalam kehidupan ini juga, dengan pengetahuan langsung, merealisasikannya dan berdiam di dalamnya.
Then that mendicant, living alone, withdrawn, diligent, keen, and resolute, soon realized the supreme culmination of the spiritual path in this very life. He lived having achieved with his own insight the goal for which gentlemen rightly go forth from the lay life to homelessness.
Ia memahami: “Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi yang tersisa untuk kehidupan ini.”
He understood: “Rebirth is ended; the spiritual journey has been completed; what had to be done has been done; there is nothing further for this place.”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.
SN 47.3 · Khotbah tentang Seorang Bhikkhu | Tiga Keranjang