sn47.14:3.1 Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam dengan dirinya sendiri sebagai pulau, dengan dirinya sendiri sebagai perlindungan, tanpa perlindungan lain; dengan Dhamma sebagai pulau, dengan Dhamma sebagai perlindungan, tanpa perlindungan lain?
sn47.14:3.2 Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan tubuh sebagai tubuh—tekun, sadar penuh, dan waspada, setelah melenyapkan ketamakan dan ketidakpuasan terhadap dunia;
sn47.14:3.3 merenungkan perasaan sebagai perasaan …
sn47.14:3.4 merenungkan pikiran sebagai pikiran …
sn47.14:3.5 merenungkan fenomena-fenomena sebagai fenomena—tekun, sadar penuh, dan waspada, setelah melenyapkan ketamakan dan ketidakpuasan terhadap dunia.
sn47.14:3.6 Demikianlah, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam dengan dirinya sendiri sebagai pulau, dengan dirinya sendiri sebagai perlindungan, tanpa perlindungan lain; dengan Dhamma sebagai pulau, dengan Dhamma sebagai perlindungan, tanpa perlindungan lain.
sn47.14:3.7 Siapa pun, para bhikkhu, baik sekarang maupun setelah aku wafat, yang akan berdiam dengan dirinya sendiri sebagai pulau, dengan dirinya sendiri sebagai perlindungan, tanpa perlindungan lain; dengan Dhamma sebagai pulau, dengan Dhamma sebagai perlindungan, tanpa perlindungan lain—mereka, para bhikkhu, akan menjadi bhikkhu-bhikkhu terbaik di antara mereka yang sungguh-sungguh ingin berlatih.”
sn47.14:3.8 Keempat.