sn45.152:1.1 “Para bhikkhu, misalkanlah sebuah pohon yang condong ke timur, miring ke timur, dan cenderung ke timur.
sn45.152:1.2 Jika akarnya dipotong, ke arah manakah ia akan jatuh?”
sn45.152:1.3 “Yang Mulia, ia akan jatuh ke arah di mana ia condong, miring, dan cenderung.”
sn45.152:1.4 “Demikian pula, para bhikkhu, seorang bhikkhu yang mengembangkan dan melatih jalan mulia berunsur delapan akan condong ke nibbāna, miring ke nibbāna, dan cenderung ke nibbāna.
sn45.152:1.5 Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu yang mengembangkan jalan mulia berunsur delapan menjadi condong ke nibbāna, miring ke nibbāna, dan cenderung ke nibbāna?
sn45.152:1.6 Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu mengembangkan pandangan benar yang berdasarkan pada keterasingan, kebosanan, dan lenyapnya, yang matang dalam pelepasan … ia mengembangkan konsentrasi benar yang berdasarkan pada keterasingan, kebosanan, dan lenyapnya, yang matang dalam pelepasan.
sn45.152:1.7 Demikianlah, para bhikkhu, seorang bhikkhu yang mengembangkan dan melatih jalan mulia berunsur delapan menjadi condong ke nibbāna, miring ke nibbāna, dan cenderung ke nibbāna.”
sn45.152:1.8 Keempat.