“Taggha tumhe, bhikkhave, evaṁ puṭṭhā evaṁ byākaramānā vuttavādino ceva me hotha, na ca maṁ abhūtena abbhācikkhatha, dhammassa cānudhammaṁ byākarotha, na ca koci sahadhammiko vādānuvādo gārayhaṁ ṭhānaṁ āgacchati.
“Sungguh, para bhikkhu, dengan ditanya demikian dan menjawab demikian, kalian telah mengatakan apa yang telah Kukatakan, tidak memfitnah-Ku dengan hal yang tidak benar, menjelaskan sesuai dengan Dhamma, dan tidak ada rekan sepenghidupan yang dapat memberikan kritik yang sah terhadap penjelasan kalian.
“Indeed, in answering this way you repeat what I’ve said, and don’t misrepresent me with an untruth. Your explanation is in line with the teaching, and there are no legitimate grounds for rebuttal or criticism.
Perasaan yang muncul dengan kontak mata sebagai kondisi—apakah menyenangkan, menyakitkan, atau netral—itu juga penderitaan. Untuk memahaminya kehidupan suci dijalani di bawah Bhagavā.
The pleasant, painful, or neutral feeling that arises dependent on eye contact is also suffering.
Perasaan yang muncul dengan kontak pikiran sebagai kondisi—apakah menyenangkan, menyakitkan, atau netral—itu juga penderitaan. Untuk memahaminya kehidupan suci dijalani di bawah Bhagavā.’
The pleasant, painful, or neutral feeling that arises dependent on mind contact is also suffering.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.
SN 35.81 · Khotbah tentang Beberapa Bhikkhu | Tiga Keranjang