“Melihat demikian, para bhikkhu, siswa mulia yang terpelajar menjadi jemu terhadap mata, jemu terhadap bentuk-bentuk, jemu terhadap kesadaran mata, dan jemu terhadap kontak mata.
“Seeing this, a learned noble disciple grows disillusioned with the eye, sights, eye consciousness, and eye contact.
Dengan menjadi jijik, nafsu menjadi reda; dengan redanya nafsu, mereka terbebaskan; ketika terbebaskan, timbul pengetahuan bahwa mereka telah terbebaskan.
Being disillusioned, desire fades away. When desire fades away they’re freed. When they’re freed, they know they’re freed.
Mereka memahami: ‘Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi yang tersisa untuk kehidupan ini.’
They understand: ‘Rebirth is ended, the spiritual journey has been completed, what had to be done has been done, there is nothing further for this place.’
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.
SN 35.62 · Khotbah tentang Habisnya Segala Kemelekatan (Ke-2) | Tiga Keranjang